Keraguan, Pengorbanan, Semua Demi Cinta di Ayat-ayat Cinta

ayatayatcinta.jpgWell pertama males banget untuk liat film Indonesia yang begitu-begitu aja. Pas banyak media ngerivew Ayat-ayat Cinta pun aku males untuk nyempetin waktu nonton ini film. Ya kalau sudah mampir di beritadalamkancoet, pasti RD Lovers tau kenapa saya nonton film ini.

Buat film ini saya kasih acungan tiga jempol. Kenapa nggak empat karena memang masih banyak kekurangan disana sini meski segi cerita memang kuat. Saya tidak pernah membaca novelnya jadi saya kurang tau apakah si Hanung berhasil menumpahkan secara jelas tanpa mengurangi detail yang ada di novelnya menjadi film yang bagus dan tidak bertele-tele.

Ini dia alasan saya memberi tiga jempol untuk film ini:
Dari segi cerita memang kuat. Meski dari awal hingga akhir nuansa Islam begitu kental tetap tidak membuat saya yang non muslim bingung untuk mengikuti alur cerita. Begitu jelas penggambaran bagaimana sakit dan susahnya hidup berpoligami, bagaimana susahnya menjadi orang yang taat dan bingung sampai mempertanyakan Tuhan. Jelas bagaimana penggambaran bahwa cinta itu memang butuh pengorbanan yang besar diantara keraguan dan keegoisan. Penggambaran yang bagus saat cinta sudah meraja pindah agamapun dihalalkan demi mendapatkan sang kekasih daripada mendapatkan kedekatan pada sang Ilahi. Hanung tidak bertele-tele dalam menyampaikan semuanya. Saya sampai merasakan klimaks dua kali di film ini, tak heran kalau saya menghabiskan dua tissue saat menonton film ini. Hanung siap2 anda mendapatkan banyak penghargaan atas film ini.

Dari segi sound saya baru menemukan film Indonesia dengan sound yang halus seperti film ini.

Lagu-lagu yang dipakai sangat bagus, membuat bulu kuduk berdiri meski saya tidak tahu artinya* karena dalam bahasa Arab*. Dari segi pemain, saya acungi dua jempol buat pemeran Fahri yang memerankan fahri secara pas dan tidak berlebihan. Untuk Riyanti saya rasa juga sudah pas memerankan Aisah. Tapi sayang pemeran Maria kurang total. Biasa-biasa saja, apalagi saat dia sakit dan tidak bisa bangun, perannya saya bilang tanggung. Tapi meski alur yang cepat, cerita yang kuat, sayang film ini tidak didukung detail yang baik.

Karena mengambil setting di Mesir, mengapa terlalu banyak orang Mesir dan terlalu banyak orang Indonesia di dalam film itu. Terkesan dipaksakan sekali. Ketika adegan Bahdur mencari Nuru sang anak yang diselamatkan Maria, dia berbicara dalam bahasa Indonesia kepada masyarakat sekitar. Dan hebatnya lagi masyarakat sekitar seolah mengerti apa yang dikatakan Bahdur padahal jelas mereka orang Mesir. Lalu sebenernya Maria sakit apa? Kalau jantungnya sakit, kenapa menetes lewat hidung? Terkesan kan kalau dipaksakan?Sebenarnya apa pekerjaan Aisah kok dia seperti tour guide nya sicewek bule?

Best adegan dalam film ini: Saat Aisah meminta Fahri untuk menikahi Maria karena dia butuh dia dan karena anak Aisah butuh bapaknya. Lalu saat mereka Fahri menikah di rumah sakit dengan Maria yang tidak sadarkan diri dan Aisah yang menangis karena tidak rela suaminya berpoligami tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Saat Fahri mengatakan “astafirulah” *maap kalau salah tulis* saat melihat wajah Maria di sungai nil dan saat moment meninggalnya Maria yang meninggal saat bersolat bertiga bersama Fahri dan Aisah.

Akhir kata saya kasih 4 dari 1-5 untuk film ini. Harusnya bisa lima tapi karena detailnya kurang dan terkesan dipaksakan serta ending yang biasa saja jadi ya mau tidak mau saya kasih 4 deh.

14 thoughts on “Keraguan, Pengorbanan, Semua Demi Cinta di Ayat-ayat Cinta

  1. aRuL says:

    dari segi isi betul2 ngena banget yah…
    iyah saya setuju dengan evelyn beberapa detil film ini kurang masuk seandainya make bahasa arab dengan ada artinya dan menggunakan orang mesir sana, saya rasa lebih ngena lagi.

  2. det says:

    auw……… yak apa kabare ning eve? lama ndak muncul di kopdar2.. kangen semua tuh!!!

    filem ini saya sudah bikin ringkasan di blog saya, mampir ya… :d

  3. rezco says:

    kalau liat komentar “asal jeplak” yang beredar dimana-mana, katanya sih memang agak beda novel dan filmnya.

    tapi, ya itulah bedanya, bahasa visual dan bahasa teks selalu mempunyai perbedaan dalam membangun imajinasi dan menyajikan detil bagi penikmat (pembaca novel atau penonton film) AAC.

    but anw, setidaknya film ini berani ambil genre berbeda dibanding tren film indonesia sekarang.

  4. sandynata says:

    kalo saya sebagai orang yang nggak begitu suka sama film drama saya nilai dari segi teknis nya aja deh,
    1. sinematografi: Ok!
    2. sound: salut banget!

    itu aja..

  5. Ichsan Hirata says:

    Jangan sok sok teu buat kasih komentar2 gitu ah, pake acungan jempol2 segala lagi.. yg jelas nikmati, dan syukuri. Indonesia sdh berkarya dgn baik dlm hal perfilman. *eheMmmh*

  6. evelynpy says:

    @pitshu:
    Yup bener, teksnya memang nggak keluar jadi kadang aku nggak dong sama ceritanya tapi ya aku liat aja bahasa non verbal mereka secara itu sudah jadi bahan pelajaranku sehari hari.🙂

    @Arul:
    yup bener.. anda benar. Apalagi kalau pakai bangunan asli Mesir bukan bagunan yang bagunan India. Ada beberapa bangunan yang keliatan banget kalau itu bangunan India.🙂

    @Didut:
    aku tau kenapa, soalnya dirimu nggak suka nonton🙂

    @Jimmy:
    empat itu skala pengukuran film ku kalau 3skala pengukuran pakai jempol kedua dua nya sama nggak sempurnanya kan ?😉

    @Herru:
    Iya tau…hehehe…sudah liat review di salah satu majalah.🙂

    @Det:
    Okeh

    @Ria:
    Pengen aku bikin bahan skripsi tapi kok kayaknya susah ya🙂

    @Rezco:
    Bener aku salut sama ini film bisa beda dari film Indonesia yang masih tetep di horor dan akan ke komedi romantis.

    @Mike:
    Dasar maniac lu sama si katherine.Awah gergoe cemburu lho!:)

    @Sandynata:
    kalau saya agak nggak stuju dalam hal sinematografi.
    sinematografinya biasa aja lho! Nggak ada yang special cenderung ke medium shot semua. Keliatan bagus soalnya ketolong dengan viewnya setting mereka dan render di editing.

    @Effendi:
    Secret jiplak lake house! Cuman bedanya ini dari china yang lake house dari korea dan di hollywoodkan.🙂

    @ichsan:
    Saya nggak sok tau anda aja yang sok komentar dengan komentar aman!
    Sejak kapan ada larangan orang dilarang untuk mengemukakan pendapatnya tentang sesuatu hal?
    Mau pakai acungan jempol kek anggukan kepala kek atau tulisan kek ya terserah orang dong! Situ kok repot!
    Kalau film Indonesia nggak dikritik kapan film Indonesia mengalami kemajuan. Kapan penontonnya bisa dibuat pinter? Bekarya dengan baik? Apanya yang patut disyukuri kalau filmnya hanya horor dan komedi romantis yang nggak ada maknanya!

  7. justctrlz says:

    hi, saya udah nonton filmnya, baru sih dan coba gugel..
    dan baca2 komen, penonton bingung kok hakim atau si X dalam AAC bisa bahasa Indonesia…
    erhhmmm is it me atau gimana yah….
    saya belom baca novelnya.. bukan disini maksud dari filmnya..seolah-olah semuanya diucapkan dalam bahasa arab… tapi karna yg bikin org indo jadi bahasa indo dimasukin…
    jadi menurut saya sih, si aisa, hakim dipengadilan, orang gila didalam sel..semuanya berbahasa arab..karna kan settingnya diMesir…
    tapi karna yg bikin orang indonesia .. nggak munkin dong semuanya dalam bahasa Indonesia…..

    abis banyakkan film yg settingnya ttg Yunani, Hercules dan sebagainya… Petualangan Indiana Jones di India…. Romeo and Julie dari shakespeare.. semuanya dalam bahasa Inggris….
    jadi mungkin gitu…
    tadinya say juga sempet bingung.. kok basa nyampur2..
    dan menurut saya lagi, bagus dong dominan dalam bahasa Indonesia secara Itu Bahasa kita sendiri dan nyampur arab karna biar lebih terasa diarabnya ajah.. tapi nggak mungkin semua dalam arab, toh yg bikin org kita….

    kira2 sih begitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s