Kematian itu…

Jujur sebenarnya agak malas dan bosan menulis tentang kematian the smiling jendral, Soeharto. Karena pastinya teman-teman blogger yang lain pasti menulis hal yang sama setelah dua hari berturut-turut semua media menjadikannya hal yang luar biasa dan patut untuk kita tonton.

Kematian….
Siapa yang tidak takut akan kematian. Orang pasti lebih antusias menyambut kelahiran daripada musuh bebuyutannya yaitu kematian. Ketika kematian datang pasti rasa kesedihan itu datang. Air mata pun tak terelak lagi. Bagi orang yang mampu kematian bukanlah hal besar dalam segi materi namun hal yang sangat besar dari segi rasa cinta karena kehilangan. Bagi orang yang tidak mampu, kematian selain menggerogoti hati juga menggerogoti kantong sendiri untuk membeli segala sesuatu untuk yang bersangkutan.


Tapi ada yang aneh ketika saya melihat siaran langsung tentang kematian mantan orang nomor satu di Indonesia bahkan saya bilang orang nomor satu di Asia.
Ketika orang-orang rela memarkirkan mobilnya di jalan raya dan rela bermacet ria demi melihat iring-iringan mobil jenasah Soeharto saat hendak di bawa ke Solo. Banyak anak SD beserta sang guru turun kejalan dan melambaikan tangan ketika mobil jenasah melewati mereka. Banyak orang yang tidak memperdulikan kesehatan dan rela berhenti sejenak dari aktivitasnya hanya untuk berdesakan demi melihat bagaimana Pak Harto dikuburkan.Media membuatnya terlalu berlebihan sehingga kata terlalu mendramatisir layaknya di sinetron muncul di otak saya. Semua berlomba-lomba menyiarkan secara langsung. Meng closeup mbak Tutut yang sedih kehilangan ayah tercinta dengan begitu lama, meng close up ketika peti dibuka saat jenasah hendak dimiringkan ke arah kiblat dan masih banyak yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Ketika media membuat terlalu berlebihan dan rasa cinta dan belas kasian rakyat terhadap mantan “ayah”nya yang telah berpulang mulai muncul, kata sejarah menghadang di depan mata. Sejarah terbesar yang terjadi saat itu disamping sejarah lain yang Indonesia miliki.

Tapi sekali lagi konyol rasanya melihat hal itu. Apakah mereka paham arti kematian dan paham arti ditinggalkan. Kalau iya kenapa mereka melambaikan tangan saat mobil jenasah melewati mereka? Kenapa sampai bapak SBY mengumumkan hari berkabung nasional sampai satu minggu? Dan kenapa pula dia yang menjadi komandan upacara pemakaman pak Harto. Tidakkah dia harusnya sadar, kalau sudah saatnya nanti apakah presiden selanjutnya akan memberlakukannya seistimewa dia memberlakukan Pak Harto? Kekonyolan juga terjadi saat suasana lagi berkabung.
Ketika orang menangis sedih karena kehilangan namun tetap saja orang sok tidak peduli dengan mengatakan kejahatannya harus dituntaskan. Kasus-kasusnya harus jelas di mata hukum. Tidakah mereka berhenti sejenak dan berkoar-koar nanti saja? Lusanya misalkan?

Padahal kematian itu harusnya disambut dengan rasa iklas bukan disambut dengan pertentangan. Disambut dengan rasa lapang dada bukan ekspos yang berlebihan dan disambut dengan meratapi dan merenungkan diri bukan mempreteli kesalahan orang lain. Biarkan semua berhenti untuk sejenak, berdoa bagi yang meninggal, dan berdoa bagi yang ditinggalkan, urusan yang lainnya biarkan itu diurus beberapa hari setelah ini. Toh dari dulu-dulu selalu saja terlalu lama menunggu, apakah sekarang tidak bisa menunggu barang sebentar saja? Bayangkan saja kalau kita yang meninggal namun tidak ada satupun yang benar-benar mendoakan kita tapi memang mengharapkan kita meninggal karena segera begitu kekuasaan kita tidak ada, mereka bisa menerkam kesalahan kita.

12 thoughts on “Kematian itu…

  1. AlDie says:

    entah kenapa gua ngerasa sedikit kasihan dengan kematian The Smiling General, bukan karena kematiannya tapi untuk meninggal aja dia harus mati-matian berjuang… dan kasihannya lagi kematian digunakan oleh banyak orang sebagai alasan untuk menunda sesuatu hal… entah itu rapat, ketemu orang, masuk kerja…

    kasihan yah…:)

  2. pitshu says:

    tapi klo orang meninggal, biasanya orang akan selalu inget yang baik2 nya kok hahaha.. jadi pasti ada yang mendoakan🙂, dan memaafkan semua kesalahan kita.hehehehe… walaupun di status YM temen2 g ada yang bersorak sorai senang dan ada juga yang sedih hahahaha…

  3. LiSan Skywalker says:

    Emang tuh, terlalu berlebihan yang di siarin di media, di putar ampe berulang-ulang cuma memancing simpatik saja. Memaafkan boleh saja, tapi keadilan harus tetap ditegakkan dunk, bagaimana nasib keluarga yang sudah diperlakukan semena-mena, apakah mereka juga tidak sedih?? Mulai dari dipenjara, ditembak, tiba-tiba lenyap dan tragedi lainnya, apakah pada masi ingat?

  4. jimmy says:

    saya yakin banyak orang yang pengen ikut-ikutan saja dengan berdesak2an ingin melihat iring2an mobil jenazah pak harto dari dekat.. tapi saya juga yakin banyak orang yang memang betul2 bersedih dan merasa kehilangan.. dan juga banyak orang yang memanfaatkan momentum ini untuk sekedar cari muka!

  5. Pyrrho says:

    Betul kata Khim, hari berkabung selama beberapa hari itu ada peraturannya (PP). Untuk siapa saja dan berapa lama hari berkabungnya. Kalau Presiden SBY yang jadi inspektur upacara, itu karena melihat Soeharto sbg mantan presiden. Setahu saya jg ada PP-nya. Siapa yg jadi inspektur upacara ketika seorang tokoh meninggal dunia, dan jenis upacara pemakamannya seperti apa.

    Mudah-mudahan ini nggak dilaksanakan hanya untuk Soeharto saja. Juga dengan mantan presiden yang lain kalau mereka meninggal.

    Kalau soal penggambaran lewat media. Hehehehe… ada slogan trial by the press. tapi yg kemarin itu benar-benar beritanya dibikin bombastis oleh media. Dan media bisa jadi pengarah opini publik. Berlebihan ? Menurut saya juga memang berlebihan.

  6. beritadalamkancoet says:

    Kematian Soeharto diEkspos sana-sini menurut saya itu hal yang wajar, karena Soeharto termasuk sosok yang penting dan berpengaruh besar terhadap Indonesia *Secara dia itu presiden ke-2 setelah Soekarno*
    Nah, mengenai segala kesalahannya, tentu saja Soeharto juga manusia yang tak pernah luput dari salah dan dosa.
    Jadi sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk mengambil hal2 yang positif darinya seperti kemampuan dari Soeharto dalam mengendalikan keamanan negara, mengendalikan perekonomian negara. Dan membuat hal2 negatif menjadi sarana pembelajaran buat kita semua seperti ketidakmampuannya dalam mengkoordinasi anak2nya, dll.
    Mari kita ambil hikmahnya saja. Peace all!😉

  7. evelynpy says:

    @Khim:
    Thanks buat informasinya🙂

    @Aldie:
    Orang Indonesia memang kebanyakan alasan😉

    @Ari:
    So?

    @Pitshu:
    Waduh temen2 kamu memang keterlaluan ya? Orang meninggal kok malah seneng?😦

    @Lisan:
    Tentunya masih ingat dong, nggak akan pernah dilupain. Sekarang kan masalahnya buka masih ingat apa tidak tapi masalah berani atau tidak menuntaskannya?

    @Jimmy:
    Masalahnya itu males aja kalau suasana berkabung justru di gunakan kesempatan bagi mereka si tukang penjilat!

    @fertob:
    Trial by the press apaan ya?
    Aku coba cari teorinya kok nggak ada?

    @Kancoet:
    Waduh ternyata anak harus dikoordinasi juga ya?😆

  8. riawibisono says:

    aku kasihan sama Pak Harto karena dia meninggal sebelum selesai proses hukumnya. seperti opini interaktif seorang pendengar radio yang ga sengaja aku dengar: “Adili dulu di dunia supaya hukumannya berkurang di akhirat.”
    soal orang yang terus berkoar2 supaya kasus hukumnya tetap diusut, itu ketakutan Lyn… orangnya hidup aja kasusnya ga diusut2, apalagi meninggal… akan semakin banyak alasan untuk menunda bahkan membatalkan proses hukum itu… sayang sekali bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s