Siapa Yang Mengambil Untung Dari Siapa?

Climate Change

Foto diambil dari Jawapos

Siapa yang tidak tahu kalau Indonesia di daulat oleh dunia International menjadi tuan rumah United Nations Framework Convention of Climate Change yang diadakan di Bali dan dihadiri oleh lebih dari 10.000 perwakilan negara dan 180 LSM dari berbagai negara. Kemarin tanggal 3 Desember 2007 acara yang diadakan di Bali International Convention Center The Westin Resort, Nusa Dua Bali. Info lebih lengkap silahkan baca di sini.

Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di hati saya selain rasa bangga ketika konfrensi bertaraf International diadakan di Bali yang notabene masih mendapatkan image jelek di mata dunia akibat Bom Bali lalu.

Kenapa Indonesia Harus Repot-Repot mengadakan acara ini di Bali?

Kita tahu masih banyak urusan dalam negri yang harus ditangani oleh pemerintah daripada hanya sekedar “kongkow”dengan negara lain berkedok Climate Change. Berapa banyak uang yang harus Indonesia keluarkan demi acara ini? Apa jangan – jangan Indonesia sengaja dibayar dengan dollar dan justru tidak mengeluarkan uang sekaligus hanya menyiapkan tempat? Padahal kita tahu masih amat sangat sedikit masyarakat kita yang aware terhadap persoalan ini dan Indonesia sendiri juga adalah negara korban dimana hutannya dipangkas habis oleh negara Asing dan menyebabkan iklim yang berubah di daerah Indonesia. Lantas siapa yang mengambil untung dari siapa?

Kenapa di pilih Bali?

Apa karena Bali adalah ikon of Indonesia selain Jakarta? Atau karena Indonesia ketakutan kalau-kalau tamu yang mereka undang tidak tahu tempatnya dan tidak bisa menikmati Indonesia kalau tidak di Bali. Bayangkan saja misalnya acara ini diadakan di Kalimantan? Saya yakin pasti banyak yang rewel masalah tempat dan segala macamnya. Padahal saya rasa Kalimantan lebih cocok daripada Bali. Hutan kita disana sudah hilang dan saya rasa itu adalah salah satu agenda yang tepat dimasukkan dalam acara itu sehingga orang luar bisa melihat bahwa Indonesia yang menjadi tuan rumah sekarang adalah korban dan agar negara maju bisa mendanai hutan kita selain mengambil hutan kita itu. Kalau bicara Bali apakah Indonesia ingin mengembalikan citra Bali di mata dunia dan berharap mengeruk keuntungan dalam hal pariwisata akibat acara ini? Lantas siapa yang mengambil keuntungan dari siapa?

Kenapa ini diadakan di hotel? Hotel ternama pula?

Katanya konfrensi ini berbicara mengenai perubahan iklim alias global warming. Lantas kenapa acara ini diadakan di hotel? Kenapa tidak ditaman terbuka yang bisa menampung banyak orang dan tidak menghabiskan energi sama sekali dengan pemasangan lampu serta AC. Masih ingat kan promo matikan listrik dan gunakan AC 26 derajat? Kenapa tidak menginap di penginapan yang murah tanpa AC saja agar mereka bisa menerapkan judul acara mereka. Jelas kan ketidak sinkron antara judul acara dengan apa yang mereka lakukan? Kalau di adakan di hotel pasti mereka mempunyai banyak alasan dan alasan itu adalah senjata utama yang akan digunakan Westin untuk mengambil keuntungan dari acara ini, baik brand building dan brand awarness. Lantas kalau begini siapa yang mengambil untung dari siapa?

 

 

25 thoughts on “Siapa Yang Mengambil Untung Dari Siapa?

  1. gimbal says:

    semuanya kan butuh proses. No pain no gain.
    Pertanyaan yg sama bisa mucul juga ketika ada orang nikah harus di Hotel yg mewah.. kenapa gak dirumah aja yg sederhana? Tapi kan ponit-ny bukan disitu. Menurut saya hal tsb erat kaitannya dgn improvisasi sektor pariwisata Indo.. visit Indonesia yg telah punya logo..

    Perhelatan itu digunakan pemerintah untuk:
    1. Meningkatkan awareness di sektor pariwisata. “Ini lho Indonesia.. punya pantai2 yg indah.. next time km bisa berkunjung dgn keluargamu..”

    2. Meningkatkan citra indonesia as the whole country sbg negara yg ikut mendukung dan ambil bagian dlm kehidupan international.

    3. Mendatangkan devisa.. para tamu kan spend money di Indo..

    Dan Kenapa ini diadakan di hotel? Hotel ternama pula? Bukan ditempat terbuka? Ya ini erat kaitannya dgn etika tuan rumah dlm memperlakukannya tamu dan etika dlm bermasyarakat secara global. Idealisme itu penting tapi kan harus sinergi dgn komersialisme.. krn pertanyaan sperti ini juga bisa muncul: kenapa para anggota Dewan rapatnya di gedung yg pake AC? kenapa gak diwarkop saja? mereka di bayar rakyat? harusnya mereka juga merasakan penderitaan rakyat. Krn kehidupan ini tdk bisa sepenuhnya ideal..

  2. riawibisono says:

    wah… jangan mikir dari sisi negatifnya terus lah…
    1. BICC memang ideal buat conference, sudah langganan. aku tau soalnya pernah jadi panitia conference APMF tahun lalu disana, memang tempatnya oke banget.
    2. ini bisa jadi satu brand baru bagi Bali, kalau dulu taunya ke Bali cuma buat jalan2, sekarang bisa dibuat MICE (meeting incentive conference expo) juga. aku rasa Bali memang butuh menjual kelebihan lain di luar sektor pariwisata. karena begitu pariwisata mundur, hampir semua sektor bisnis di Bali terpukul karena bersinggungan dengan pariwisata.
    3. namanya conference meskipun judulnya ramah lingkungan kan tetap aja butuh LCD, pengeras suara, dkk. kalau di hutan apa ya bisa pesertanya konsen, sedang di hotel aja kadang masih ga jaminan pesertanya bisa ngikuti dengan baik. sekarang juga musim hujan Lyn, masak mau conference di taman, kalo ujan gimana? kalau pasang tenda tetap aja butuh lampu, kan kurang terang.
    4. yang ikut kan banyak banget, nah BICC kan letaknya di kompleks perhotelan Nusa Dua, ga cuma westin, di sekitarnya juga banyak hotel. jadi akomodasi gampang, transpor juga, jalan kaki juga bisa, ramah lingkungan kan?
    5. lumayan kan kalau peserta conference jalan2 di Bali dan pundi2 dollar mereka beralih ke masyarakat Bali. gimanapun juga efek bom Bali masih terasa, banyak warga yg penghidupannya belum pulih, padahal you know biaya hidup di Bali itu tinggi, apalagi orang Hindu Bali juga menghabiskan dana yang besar untuk upacara keagamaannya.

    yang harus diributin dari conference ini bukan tempatnya lah, tapi follow upnya. apakah setelah ini ada kebijakan pemerintah yang lebih tegas dalam bidang lingkungan hidup. apakah negara maju bersedia memberi dana untuk memelihara hutan di Indonesia yang merupakan paru2 dunia, tanpa mengintervensi kebijakan politis dan ekonomi Indonesia seperti biasanay? perlu diingat loh, efek rumah kaca sebagian besar disebabkan oleh industri yang dibangun negara maju, termasuk yang dibangun di negara berkembang spt Indonesia.

    walah kok udah panjang ya…. maap2… udahan deh…🙂

  3. gempur says:

    Wah, pusing juga bacanya, gila yang nulis, banyak banget, yang baca aja pusing palagi yang nulis ya?!😉

    Gini, bos! mending kita berbaik sangka saja dengan pemerintah, meski ahli lingkungan Inggris sdh memprotes kalo konferensi kali ini sudah menyumbang emisi karbon yang sangat besar. Angkanya saya lupa..

    Tapi, sudah lumayan dari Uni Eropa sudah mau mengurangi emisi karbon mereka hingga 20% sampai tahun 2020. Tinggal amerika yang kurang ajar nih! tetep aja keukeuh gak mau nandatangani protokol kyoto. Kayaknya setelah WTC, Washington kudu dijatuhin pesawat lagi tuh!😉

    Salam damai!

  4. herru says:

    lha wong pemerintah kita tidak punya political will untuk go green malah jadi tuan rumah acara beginian. liat aja ilegal loging, penggundulan hutan, emisi yang berlebih, mana ekspresinya manaaaa???

  5. curryegg says:

    I think it’s a kind of business there are having there… Smart people are those who get the benefits..

    And nice photos you’ve in your flicker.. Beautiful…
    Have a nice day…

    curryegg~

  6. atmo4th says:

    yang penting ada usaha…

    pasti ada orang yang serius ingin save the earth.

    seharusnya kita berbesar hati sebagai tuan rumah, bisa memperkenalkan bali, indonesia yang semakin hot, ke dunia. Bali bisa-bisa mengalahkan popularitas indonesia [atau emang udah ya?]. Petenis kelas dunia aja mau main di bali. Tapi di kota lain di indonesia gak mau kan?

    kalau masalah di hotel,

    lha iya masa mau konferensi di pantai,, ini bukan acara main-main lho mba. Sebagai tuan rumah harus menampilkan jamuan yang baik..

    bayangkan kalau piala asia 2007 kemarin mainnya di lapangan bali [lapangan di SMA saya yang banyak batunya], kan gila..
    😀

  7. gimbal says:

    @ Ria,
    setuju. Good Point Ria. Pointnya memang bukan pada tehnikal pelaksanaanya tapi pada follow up, komitment pemerintah untuk do better after conference ini.

  8. mikearmand says:

    BTW daripada meributkan conference ini mau gimana, yang lebih penting adalah pasca conference nya. bagaimana sikap pemerintah thd issue yg dibahas. Contonhya : kasus adelin lis mau dibawa ke mana ??

  9. evelyn pratiwi yusuf says:

    @To All:
    Thanks sudah mau kasih komen di artikel yang super duper panjang dan mungkin bagi beberapa orang bisa menimbulkan sakit demam dan diare. Sorry baru kasih komen sekarang, soalnya pada sibuk mikirin UAS.🙂

    @Mike:
    Iya, aku pikir juga gitu.

    @YZ:
    Ah masa si mutualisme, bukannya ada yang jadi parasit alias benalunya ya?🙂

    @Koecing:
    Penghematan pas siang hari kan? Ya jelas lah, siang hari kan nggak butuh lampu.😆

    @Gimbal:
    Memang kehidupan tidak sepenuhnya ideal, tapi saya harap perundingan ini meski menghabiskan banyak energi bisa menghasilkan hal yang amat sangat menguntungkan Indonesia.😉

    @Ria:
    Waduh kalau dipikir-pikir follow up nya nanti akan gimana ya?
    yup, apakah akan seperti kata pepatah berikut ini:
    HANGAT-HANGAT TAI AYAM

    @Gempur:
    Ya, namanya juga negara Adikuasa mas, kelakuannya tetep tidak dewasa, kalau untuk masalah dijatuhin pesawat,aku nggak setuju, kasian makan banyak korban nanti🙂

    @Herru:
    Bener, saya mau tahu nanti apa yang akan Indonesia perbuat untuk memperbaiki lingkungannya setelah acara ini.😉 Kita tunggu bersama ok.🙂

    @Curry:
    Yup. thanks you.
    I know smart people will be getting a great benefit in that show!😉

    @grak:
    Makanya kita berdoa bersama.😉

    @Atmo4th:
    Kenapa tidak diselenggarakan dipantai? Pasti asik dan jadi bahan liputan media sedunia, ya kan?😉

    @Lizan:
    Kalau ada udang di balik Bakwan pasti aku sabet duluan.😆

    @resco:
    Yakin nggak ada orang miskin yang diuntungkan? Kalau aku bilang ada tuh.🙂

    @pitshu:
    Kenapa dengan duit? Mau minta duitku?😆

    @Mihael:
    Lebih buruk kampanye lah, kalau pilkada mah masih bisa di tolerir!

    @Sharon:
    Nyadar toh😆

    @Khim:
    Contohnya?😉

    @Mike:
    Hayo kira-kira kasusnya Adelin Lis mau dibawa kemana hayo, sedangkan media sudah konsen ama acara UN ini di Bali.😆
    Itulah Indonesia…. * sambil nyanyi teriak-teriak*

  10. ekowanz says:

    komenku udh beberapa point terwakili ama si gimbal en ria…
    Indonesia emg d satu sisi pasti mengalami kerugian dr sisi finansial, tp hasil yg didapat mereka yakini bisa memulihkan kondisi pariwisata kekondisi yg lebih baik lagi. dan itu dimulai di ujung tombak pariwisata Indonesia yaitu d bali. Lagian isu ini kan yg lagi hangat2nya di bahas oleh masyarakat internasional…jd Indonesia bisa jg mengeruk keuntungan dr nama baik yg diperoleh selama acara berlangsung.

  11. beritadalamkancoet says:

    wah ngasi komennya telat nih kayaknya. hehehehe… Saya setuju dengan Ria tentang follow up-nya. Tapi kita tidak bisa juga serta merta menujukan semua permasalahan ke pemerintah. Kita juga harus sadar bahwa sebagian besar kita ini lahir, tumbuh, berkembang, dan mati pun di Indonesia. Kita harus punya rasa memiliki dan rasa nasionalisme terhadap negara sendiri.

    Meskipun negara sudah gembar-gembor mengenai larangan pembalakan hutan dan lain sebagainya, tapi kalo kita-nya sendiri masih membalak hutan ya apa mau dikata?

    Contoh sederhana *agak OOT nih*: banjir dimana2, rakyat hanya menyalahkan pemerintah dan menuntut perbaikan infrastruktur. Lalu bagaimana dengan perilaku rakyat yang sampe sekarang masih buang sampah sembarangan????? Tanya kenapa??:mrgreen:

  12. mikearmand says:

    Sikap thd Adelin Lis seharusnya mencerminkan sikap negara ini thd issue ini.

    Soal buang sampah sembarangan, yah karena masyarakat indonesia termasuk kita menganggap bahwa negara kita ini tak ubahnya tong sampah yang teramat besar

  13. evelyn pratiwi yusuf says:

    @Beritadalamkancoet:
    Lu tanya kenapa???🙂

    @Photomodel:
    Yuks… jangan cuman di blog aja tapi di dunia nyata juga iya.

    @Mike:
    Betul…
    Gila harusnya masuk guineess book of record dong sebagai sampah terbesar😆

  14. Pingback: Zero Reality

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s