Apakah Ini Krisis PD Pada Iklan Indonesia?!

Banyak iklan di layar kaca TV maupun di surat kabar yang selalu saja berganti tiap hari, tiap bulan atau tiap tahunnya. Kadang kalau kita perhatikan iklan-iklan tersebut ada yang simple, sangat menggelitik dengan pesan yang sengaja ingin disampaikan, sampai pada iklan yang kadang kita sendiri nggak paham apa maksudnya.

Iklan memang dipakai baik oleh perusahaan, organisasi tertentu maupun institusi Negara untuk mempromosikan produk atau jasa mereka. Dalam postingan ini saya ingin menyorot tentang iklan produk dimana femonema ini terjadi bukan pada bulan ini melainkan beberapa bulan yang lalu. Bukan sembarang produk yang ingin saya singgung, lebih tepatnya yaitu produk SIM CARD provider SIM CARD telepon genggam.

Saya yakin hampir dari semua orang di Indonesia mempunyai telepon selular atau HP. Saya yakin pula bahwa semua orang pasti memilih SIM CARD nya dengan banyak pertimbangan. Baik dari segi harga yang sesuai dengan kocek, fasilitas kemudahan yang diberikan, atau bahkan hanya ingin mendapatkan nomer cantik. Dan saya yakin pula banyak orang yang bingung untuk memilih SIM CARD untuk HP mereka karena banyaknya provider yang menyediakan berbagai promosi tentang produk mereka.

 

 

Iklan memang digunakan sebagai salah satu media untuk mempromosikan produk mereka. Mulai dari iklan yang berbau pure mempromosikan produk mereka secara detail, iklan yang membuat kita bingung dan penasaran sampai, pada iklan yang menjatuhkan produk lain dan mengagungkan produknya sendiri.

Berbagai artis papan kelas atas mulai dipasang untuk mendukung iklan tersebut agar bisa mendapatkan positioning di benak konsumen. Memang pada kenyataannya kadang cara ini berhasil dan konsumen mengerti akan apa yang dicarinya dan dapat meningkatkan penjualan.

Radja, Dian Sastro, Titi Kamal, Tora Sudiro dipakai untuk iklan Indosat baik Mentari, IM3 maupun Matrik. Untuk iklan Telkomsel ada Indra Bekti yang nampaknya masih tidak ada orang yang cocok untuk menggantikan. Untuk XL selalu saja bintangnya tidak terkenal dan masih berbau muka baru namun tetap mengandalkan feminisme perempuan seksi. Untuk 3 lebih fokus pada anak-anak dan benda-benda sesuai konsep mereka.

Tidak hanya artis-artis yang dipasang agar pemirsa atau pembaca terpikat terhadap produk mereka. Tapi agar mereka dapat meningkatkan penjualan mereka, mereka hire Production House untuk membuat iklan yang sebisa mungkin menjatuhkan produk lain.

 

Mulai dari iklan Esia yang dibintangi komedian Ronald ( extravaganza ) yang menjelaskan secara implisit ketika dia membuka satu persatu kartu dengan warna yang identik dengan logo provider HP lainnya dan mengatakan bahwa Esia yang paling baik.

Lalu iklan XL yang menyatakannya dengan hanya gadis berbaju orange dengan nomor dada Rp1 yang paling murah. Iklan XL di koran atau media cetak baru-baru ini dimana sang gadis berbaju orange duduk diatas tong besar dimana tutupnya ada dibawah dan bertuliskan Rp 0 kebanyakan syarat dan bohong lalu disamping gadis itu ada tulisan perbandingan harga secara detail dan tetap XL yang menang.

 

Iklan Indosat Mentari dimana dipasang artis Dian Sastro yang memenangkan pelelangan dimana semua yang menawar itu adalah harga talktime operator lain. Lalu si pembawa acara lelang, menyambut dengan antusias dan sampai menangis karena Dian Sastro membawa papan harga Rp 0 dan segera diiringi tag line : “ Ayo hitung lagi !“

Semua orang yang melihat tentu punya pendapat dan argument sendiri-sendiri tentang gambar dan lambang yang mereka coba berikan untuk menjatuhkan produk provider lain. Tapi saya sebagai mahasiswi ilmu komunikasi tau benar bahwa iklan-iklan yang saya sebutkan diatas sedang perang dingin secara implisit untuk mengatakan produk mereka terbaik dengan tanda dan lambang yang menginjak-injak produk lain. Baik dari segi warna, harga atau ucapan.

Dalam regulasi periklanan Indonesia, hal itu masih diperbolehkan karena pemirsa yang menyimpulkan apa maksud dari iklan itu tanpa iklan itu harus susah-susah memasang logo perusahaan pesaing mereka. Kalau mereka sampai memasang logo perusahaan pesaing mereka maka itu yang tidak diperbolehkan di sini tapi boleh di Negara Barat sana.

Saya rasa apa yang sudah dilakukan selama ini harusnya tidak perlu terjadi. Biarkan perang iklan terjadi di Negara Barat sana * kalau yang sudah sering nonton iklan nya Pepsi dan Coca Cola tau maksud saya * Saya rasa mereka berbuat begitu karena mereka tidak cukup PD dengan produk yang mereka punya. Lucu sekali dan sangat menggilitik, harusnya krisis Percaya Diri terjadi pada seseorang bukan perusahaan dengan dana besar, brand ternama mengalami hal itu karena takut bersaing dipasaran. Harusnya mereka punya suatu cara lain tapi jangan racuni konsumen dengan iklan murahan yang tidak fair seperti itu.

Kalau mereka terus memproduksi iklan seperti itu dan lembaga sensor iklan di Indonesia tidak bijak dalam tahap penyeleksian maka niscaya apa yang terjadi di Negara Barat sana dengan jelas-jelas memasang produk pesain dan logonya akan terjadi pula di sini.

Lantas dimana etika kita baik sebagai orang Timur dan etika dalam tetap menjaga persaingan sehat? Harusnya mereka mencontoh iklan rokok yang tidak pernah menjatuhkan pesaingnya, iklan sabun cuci dan masih banyak yang lain. Atau iklan barat yang kreatif punya dan terkesan tidak membodohi konsumen.

Kreatifitas itu boleh tapi kalau sampai menjatuhkan orang lain itu namanya tidak fair dan bukan kreatif, tapi orang bodoh!

24 thoughts on “Apakah Ini Krisis PD Pada Iklan Indonesia?!

  1. .:: Pitshu ::. says:

    beberapa iklan kosmetik seperti OLAY juga sekarang ngambil iklan dari cina semua tuh!

    secara biayanya lebih murah, dan enggak makan waktu buat syuting bayar aktris buat ngiklan gitu low… Mungkin untuk beberapa produk yang emang di luar ada disini juga ada yah ^^

  2. Jiewa says:

    Mulai dari iklan Esia yang dibintangi komedian Ronald ( extravaganza )

    Bintang iklan Esia bukan Onal, tapi Ringgo Agus. Kalo Onal bintangnya XL.
    Iri deh liat iklan2 luar negri, kreatiftasnya itu lho.. ga ada habisnya. Bete deh liat iklan2 indo yg basi, apalagi spt Tje Fuk.. (pernah dibahas Ria Wibisono)🙂

  3. evelyn pratiwi yusuf says:

    @Pitshu:
    Aku lebih respect dengan iklan yang diambil dari luar negri dan diputer disini tanpa ada unsur menjatuhkan produk lain. Tapi aku lebih nggak setuju kalau dibikin sendiri dan mengandung unsur nggak fair.
    *well sebenernya ada aturan dalam dunia iklan bahwa nggak boleh bikin iklan dengan bintang dan setting di luar negri. Semuanya harus di Indo. Tapi nggak tau lagi kalau aturan itu udah ilang*

    @Jie:
    Thanks ya buat koreksinya.
    Kalau iklan luar negri emang kreatif kadang justru tidak nonjolin produkya sama sekali. Tapi banyak banget yang berbau darah alias nggak fair.
    Untuk iklan Tje Fuk* iklannya nggak mutu banget!*

  4. Cherry says:

    I notice that some ads use some theme songs from movies. I wonder whether they have the license or not.

    Lifebuoy or something soapy ads on Lativi = Rip off from The Departed Irish Theme song

    Some sort of deodorant or something = use Spice Girl old song

  5. evelyn pratiwi yusuf says:

    @Cherry:
    Yeh mungkin emang banyak yang pakai lagu dari orang lain atau lagu OST tapi aku yakin mereka pasti punya ijinnya.
    Kalau nggak tuh iklan pasti dapet masalah kan?

  6. fertob says:

    Iklan itu cuma mempromosikan sesuatu, caranya yang sangat banyak.

    Saya pikir itu masih sehat, sepanjang mereka tidak menyebutkan brand/nama pesaing mereka. Kita sendiri yang lalu mengambil kesimpulan tersirat bahwa iklan anu menyerang brand tertentu.

    Kesimpulan tersirat dari suatu iklan kan nggak bisa membuktikan bahwa iklan itu menyerang suatu brand. Masalahnya, ajakan dari suatu iklan kebanyakan bermakna tersirat atau tidak langsung (menyentuh sisi bawah sadar kita untuk memakai/membeli produknya), tetapi ajakan tidak sadar juga membuat kita menarik kesimpulan/beranalogi bahwa iklan itu menyerang brand tertentu. ini yang dilematis.

    kreatifitas ? mungkin masih sampai tahap itulah (meniru, mempelesetkan, dan menyerang brand lain) dunia periklanan kita.🙂

  7. gimbal says:

    TVC digunakan company untuk mengampanyekan produk atau jasa secara nasional. Tdk berhenti sampai disitu sebuah iklan harus bisa mengkomunikasikan brand differentiation, brand values and brand benefit. Kalo di Growth Strategy-nya Igor Ansoff – sub strategy Market Penetration adl Highlight brand values, differentiation and benefit. Contoh: Iklan Yamaha: stylish, dynamic and speed maka ketika kita menyebut sepeda motor Yamaha asosiasi kita adl anak muda, larinya kenceng, modis. Berbeda dgn Honda.. ketika meyebut sepeda motor Honda maka asoisai kita irit dan harga jual masih tinggi.. meskpiun skrng konsep iklannya sedikit mengalamin perubahan.

    Dan mengenai masalah cellular provider.. tdk lain tdk bukan mereka tengah mengampanyekan differentiation and benefit dari masing produknya. Dan menurut saya tdk jadi soal… meskpiun ada beberapa iklan dari cellular provider yg harus menjatuhkan lawannya untuk menggali brand benefit dan differentiation. Contoh: Iklan Flexi versi kamar mandi… tapi menurut saya iklan tsb cerdas… krn bukan saja menggali benefit dan differensiasi produk Flexi tapi juga meng-edukasi masy. krn faktanya telpon cuma butuh waktu 3 menit dan membuka aib pesaing lain yg sangat gemar melakukan gimmick marketing.

    Jadi menurut saya, saling tikam antara Cellular Provider di TVC sejauh ini masih wajar selama dikemas dgn bhs yg nice dan kreative dan tdk dgn frontal seperti iklan Antangin JRG: waktu itu Mas Basuki bilang “…. yang lain moh…” atau apa saya lupa yg pasti intinya “ngenyek” Tolak Angin.

  8. evelyn pratiwi yusuf says:

    @andi:
    Setubuh mas!
    Aku lebih suka iklan rokok so far!.
    Amild rajanya iklan rokok!
    Marlboro juga aku suka so different dan konsisten dengan tetap menampilkan koboi. Dalam beberapa iklan belakangan ini koboi nggak ditonjolin.
    Trus iklannya Gudang Garam yang itu lho ada anak kecil yang ngomel pada papanya kalau dia digosipin ama temen2nya di sekolah pas bulan lebaran ini.

    @fertob:
    Buat saya tetap iklan itu apapun tujuannya tapi dia mengandung unsur menjatuhkan brand lain baik dari segi lambang, bahasa, atau logo sedangkan dia tidak mengatakan bahwa dia sebenernya menjatuhkan brand lain, tapi kalau kita sudah mempresepsikan seketika itu juga saat melihatnya itu sudah namanya nggak fair. Sekali lagi aku buat postingan ini aku lihat dari sudut pandang Ilmu KOmunikasi, soalnya aku ada pelajaran namanya Semiotika bung jadi aku tau benar2 iklan2 yg pure fair atau tidak.😉

    @gimbal:
    Waduh thanks banget penjelasannya yang keliatannya agak ke marketing ya. * sorry aku nggak seberapa ok disana* .
    Tapi kalau mereka membandingkan harga mereka dengan provider lain di iklan mereka itu bukannya membuat mereka semakin nampak tidak PD dengan produknya sendiri?
    Kalau nggak PD buat apa jual barang mereka dengan dana iklan segede itu?🙂

  9. gimbal says:

    Justifikasi tdk bisa diambil terburu-buru. Kita harus melihat kembali ke whole strategy company tsb. Kata Suhu Michael Porter ada 2 main strategy: 1. Differensiasi -> expensive + good quality +great brand. Contoh: Rolex, BMW, SQ dll. ke-2. Low cost -> big volume, mass, low price. Contoh: Avanza, Xenia, Lifebuoy dll.

    Dan sejauh ini memang kompetisi di industri cellular provider hanya mengandalkan ‘price war’ krn masing2 company tdk bisa memberikan differensiasi yg bagus sejauh ini –. paling hanya fitur2 yg umum, atau paling hanya telkomsel yg jaringan BTS-nya paling top.. Krn semua mengusung low price startegy.. maka ketika iklan pun mereka akan mengkampanyekan ‘brand benefit tsb’. Tidak PD?? tidak juga, krn itu memang strategy mereka dan harus dikampanyekan untuk attract customer and brand switching. Tidak kreative dlm berkompetisi? Iya, krn semua terjebak dlm ‘perang harga’.

    Dan untuk skrng: Sudah gak bisa lihat iklan TV Marlboro lagi.. krn berdasarkan policy head office PM.. Marlboro tdk akan beriklan di TV lagi… makanya Marlboro Kretek gak muncul di TV… nah takutnya ntar.. iklan A Mild yg kocak itu juga bakal dilarang mengingat Sampoerna skrng dimiliki PM.

  10. beritadalamkancoet says:

    Kalo menurut saya sih itu bukan krisis PD, tapi lebih ke bagaimana vendor menjelaskan kalo produknyalah yang terbaik diantara yang terbaik. Dan mungkin salah satu caranya adalah seperti yang banyak kamu contohkan diatas. Jadi bagi saya hal itu okey2 saja. Justru malah menjadi hal yang menarik buat saya.

    Iklan yang paling saya suka adalah iklannya Amild. Keren abizz… super duper kreatif…😉

  11. tedytirta says:

    Sepertinya bisnis dan iklan kurang sejalan dengan yang namanya etika ketimuran…makanya jangan heran iklan banyak yang dibuat penuh dengan sikut-sikutan dan jatuh-menjatuhkan

  12. evelyn pratiwi yusuf says:

    @gimbal:
    Memangnya siapa di PM? Bukannya Amild itu punyanya Sampoerna grup?

    @beritadalamkancoet:
    Hey, kok bisa tulis kata2 vendor? nggak biasanya nie?😉
    Oh iya sama aku juga suka Amild, iklannya selalu menggelitik dan mengungkap realita yang ada.😉

    @tedytirta:
    Thanks buat komennya ya🙂
    Memang kadang tradisi atau adat yang ketimuran nggak bisa di masukin buat iklan atau teknologi sekalipun. Karena nggak ada pernah ada kecocokan. Tapi kadang etika perlu dong untuk diterapkan.🙂

    @mike:
    Iya, tapi kalau pakai etika kan nggak mungkin bisa gitu?

  13. gimbal says:

    Philip Morris, pemilik brand Marlboro. Dan Sampoerna sudah dibeli oleh Philip Morris. Kenapa Philip Morris membeli Sampoerna? Salah satu alasannya PM ingin bikin rokok kretek filter yg khas Indonesia dan hanya ada di Indonesia untuk facing competition. Terbukti mereka kini membuat Marlboro kretek.

  14. evelyn pratiwi yusuf says:

    @Gimbal:
    Thanks banget atas informasinya, nambah pengetahuan banget nih!
    Jurusan apa ya ngomong2? Marketingkah?

    @Ria:
    Udah, tapi yang mana ya?
    Kan banyak fersi.🙂

  15. Ria says:

    lho yang selamat idul fitri Lyn… yang ada tari2nya itu loh
    btw keluarga Sampoerna (yang dulunya pemilik HM Sampoerna sebelum di-takeover PM) juga bisnis telekomunikasi loh sekarang. Brandnya Ceria, tau gak?

    just one more note:
    “Untuk XL selalu saja bintangnya tidak terkenal dan masih berbau muka baru namun tetap mengandalkan feminisme perempuan seksi.”
    eve, maksudnya feminisme apa femininitas? bedain loh… feminisme itu pergerakan perempuan melawan penindasan terhadap kaumnya, kalau femininitas itu terkait sama sifat feminin yang dilabelkan pada perempuan.

  16. evelyn pratiwi yusuf says:

    @Ria:
    Oh iya, aku tau, itu seru lho.
    Gimana ya cara bikinnya?
    Kalau ceria aku kok nggak pernah tau?
    APa itu provider sim card ya?😦
    Thanks bos mau ingetin aku tentang feminitas dan feminisme. Kalau aku mah pilih yang kedua, sesuai dengan maksud apa yang aku tulis.😉

  17. d2s says:

    hai, ku bukannya mau comment,,
    ku cuma pengen minta cntoh iklan yang baik dan contoh iklan yang gak baik. yng dari dalam negeri & luar negeri. boleh gak??
    tlg yah…!

  18. anthonysteven says:

    Emang iklan itu skrg rata-rata gak baik, black campaign, jadinya kearah berfilosofi kamu salah maka aku benar. Padahal itu jelas-jelas sebuah fallacy.

    Belum lagi budaya konsumerisme yg ditimbulkan dan juga citra diri yang dibengkokkan.

    Jutaan dolar dipakai setiap tahunnya hanya untuk membuat wanita yang tidak putih merasa jelek.

    Milyaran rupiah habis untuk mempromosikan pola pikir bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis orang yaitu orang super jahat dan orang super baik (dari sinetron)

    dll, dst, dsb, dkk….

    Emang perlu perubahan yang cukup mendasar dan fundamental.

  19. pcarissat says:

    Halo, salam kenal Evelyn.

    Kalau saya lebih mencermati dua item ini: keberadaan asterisk dan kalimat “dengan syarat dan ketentuan berlaku”.

    Yang saya perhatikan, beberapa dari iklan2 tsb tidak mencantumkan dua item itu. Atau mencantumkan tapi tidak kasat mata; by means kadang fontsize mereka teramat kecil, font color mereka dibuat blend in dengan background ads mereka, atau frame ads untuk section ini tidak sampai 3 secs.

    Banyak konsumer yang “kecele”. Tapi, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan konsumer karena siapa sih yang tidak mau murah?. Kesalahan justru terletak pada pihak perlindungan konsumen Indon yang memang rubbish.

    Kalau di negara saya belajar, sanksi dijatuhkan bukan hanya pada si empunya iklan tersebut, tapi justru kepada media publisher (either itu printed atau broadcast media) yang memuat iklan tersebut.

    Btw, this is my first hit to your blog. And it’s cool man ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s