Friends

 

friendship_by_wickednox.jpg

 

Pernah tidak RD Lovers merasa kecewa hanya karena segala sesuatu yang sudah dilakukan dengan maksimal ternyata hanya dipandang sebelah mata atau justru tidak dipandang sama sekali.

Justru teman terdekat atau sahabat yang jelas-jelas tidak bisa melakukan sesuatu dan kinerjanya jauh dibawah kita mendapatkan penghargaan yang melebihi kita, padahal kenyataannya mereka tidak layak atas pujian itu.

Dan itu tidak terjadi sekali, tetapi berulang kali!

Saat anda berjalan bersama teman anda tersebut justru teman anda yang mendapatkan perhatian khusus dari beberapa orang yang ada disana.

Kesempatan justru amat sangat banyak datang padanya tidak pada kita.

Kalau iya apa yang akan RD Lovers lakukan padahal mereka adalah teman sendiri ?

15 thoughts on “Friends

  1. a0z0ra says:

    Hahaha… Iye gw pernah banget kayak gitu… A really humbling experience indeed. Akhirnya kesimpulan gw ialah: (drumroll)
    People like those who are like them. Mungkin temen kamu connect banget sama orang-orang lain yg lo sebut itu, & vise versa..

    BTW, kalo lagi nyesek banget (sebel3x.. u know lah) Daripada keki-in temen kita itu, mending kita undur diri dulu.. menyepi dibawah pohon gitu *awas tuyul

  2. Piogrand says:

    relatif lagi relatif lagi. harus bicara dulu konteks nya yang jelas. “jelas2 tidak bisa melakukan sesuatu” itu dari sudut pandang kamu?
    apa nggak subyektif jadinya??

    ok lah aku coba ikut pola kamu kali ini,

    dalam marketing, kalau kita melihat ‘kinerja’ sebagai suatu produk, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang sudah kamu lakukan untuk mengkomunikasikan (promosi) produk kamu tersebut? apa kamu sudah mengeluarkannya disaat dan di tempat yang tepat?

    coba ambil kasus Roy Suryo yg lagi hangat sekarang.

    apakah ada pakar yang lebih kapabel dari dia?? banyak (menurut pengakuan banyak orang)

    tapi siapa yang ada di otak orang media kalau mau mencari pakar telematika?? (jawab sendiri) – Brand Recognition.

    so.. kadang yang namanya unjuk diri itu perlu.
    Jadi jangan jadikan teman kamu sebagai kambing hitam. hati2 terjebak dalam perasaan iri dan dengki. ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain jauh lebih baik hehe..

    just2cents..

  3. evelyn pratiwi yusuf says:

    @ Jie:
    Good Advice🙂, tapi gimana mau belajar kalau sirik udah timbul?

    @ a0z0ra:
    [ending kita undur diri dulu.. menyepi dibawah pohon gitu *awas tuyul ]
    Mau ngapain, cari pesugiham?😉

    @Pio:
    Bukankah setuap postingan di blog seseorang pasti sarat dengan subjektifitas yg tinggi?😉

    [Jelas2 tidak bisa melakukan sesuatu” itu dari sudut pandang kamu? ]

    Misal aja: Disuruh nanganin negosiasi dengan pembicara seminar, dia nggak bisa nego san nego jadi gagal,alhasil kita yg mesti turun tangan dan akhirnya sukses.
    Pokoknya banyak contoh, tapi nggak mungkin aku contohin di sini, soalnya bisa panjaaaaaannng dan lebaarrr.

    Saya setuju kalau teman tidak perlu dijadikan kambing hitam karena terjebak dengan iri dan dengki. Tapi kalau memang sudah koreksi diri dan ternyata realita yg ada teman kita lebih lucky dalam segala hal meski kita sudah berusaha, bagaimana duong?

  4. riawibisono says:

    ndak enak emang ada di bawah bayang2 orang lain. aku juga kadang mengalami itu kok. susah emang untuk gak sirik. tapi usaha aja Lyn. ndak munak, aku belum tentu juga bisa berbesar hati dlm situasi kyk gitu. tp ya dikontrol aja, jgn sampe perasaan sirik itu merugikan baik bagi kita maupun orang lain.
    kalo udah parah, ya quit aja. kamu pikir kenapa coba aku dulu quit dr *you know who*? hehehehe…

  5. 9uBr4K5 says:

    – Justru teman terdekat atau sahabat yang jelas-jelas tidak bisa melakukan sesuatu dan kinerjanya jauh dibawah kita mendapatkan penghargaan yang melebihi kita, padahal kenyataannya mereka tidak layak atas pujian itu.

    – Saat anda berjalan bersama teman anda tersebut justru teman anda yang mendapatkan perhatian khusus dari beberapa orang yang ada disana.

    <—- huhmmm… itu seringkali terjadi… coba kamu lakukan pendekatan personal dgn para senior atau atasan kamu…

    coba kamu pake teori “main klaim”… caranya… usahakan lakukan semua kebisaan kamu didpn atasan kmu itu… terus kamu bilang kalo pekerjaan temen2 kamu atau sahabat2 kamu itu sebenernya hasil buah pikir kamu (tanpa menjelek2an temen2 atau sahabat2 kamu)…

    ok ! met mencoba
    😀

  6. gimbal says:

    Dulu aku juga mengalaminya Eve. I do so much, I think lots, I sacrifice tapi yang dpt pujian malah temen2ku yg kerja-nya gak semaksimal aku, bahkan malah cuma setor muka: krn mereka tau cara “cari muka”, “penjilat yg tdk terlihat seperti penjilat”.

    Aku bukan saja berada dlm bayang2 temen, tapi aku tu kayak invisible, gak dianggep, not exist. Padahal kenyataan-nya temen2 ku itu selalu minta nasehat dan bantuan ke aku. Tapi giliran persoalan selesai, mereka gak pernah bilang aku yg banyak bantu, mereka dengan tampang “pahlawan”, tebar pesona, lalu “cari muka”.

    I know how to promote myself, I know “how to offer” my self. tapi untuk urusan bantu-membantu aku gak mau aja dibilang “cari muka”. Sampai akhirnya aku sadar: aku mengerjakan semua ini krn aku mau, krn aku bisa, dan yg terpenting tulus tdk ada tendesi apapun. Sebagus apapun penilaian dan pujian manusia, lebih indah pujian dan penilaian Tuhan krn aku ngelakuinnya tulus.

    Susah sie memang, susah bgt, krn bagaimanapun sisi duniawi gak bisa lepas, we need compliment from each other. Dan sampai sekarang pun gw masih pengen dipuji masih dan gak rela kalo temen-ku yg gak ngelakuin apa2 malah dpt tempat istimewa. Yah tapi just rooling aja lah.

  7. AdhiRock says:

    Dulu aku juga mengalaminya Eve. I do so much, I think lots, I sacrifice tapi yang dpt pujian malah temen2ku yg kerja-nya gak semaksimal aku, bahkan malah cuma setor muka: krn mereka tau cara “cari muka”, “penjilat yg tdk terlihat seperti penjilat”.

    Aku bukan saja berada dlm bayang2 temen, tapi aku tu kayak invisible, gak dianggep, not exist. Padahal kenyataan-nya temen2 ku itu selalu minta nasehat dan bantuan ke aku. Tapi giliran persoalan selesai, mereka gak pernah bilang aku yg banyak bantu, mereka dengan tampang “pahlawan”, tebar pesona, lalu “cari muka”.

    I know how to promote myself, I know “how to offer” my self. tapi untuk urusan bantu-membantu aku gak mau aja dibilang “cari muka”. Sampai akhirnya aku sadar: aku mengerjakan semua ini krn aku mau, krn aku bisa, dan yg terpenting tulus tdk ada tendesi apapun. Sebagus apapun penilaian dan pujian manusia, lebih indah pujian dan penilaian Tuhan krn aku ngelakuinnya tulus.

    Susah sie memang, susah bgt, krn bagaimanapun sisi duniawi gak bisa lepas, we need compliment from each other. Dan sampai sekarang pun gw masih pengen dipuji masih dan gak rela kalo temen-ku yg gak ngelakuin apa2 malah dpt tempat istimewa. Yah tapi just rooling aja lah.

  8. **PrEtTY iN tHE CiTY says:

    kayaknya pernah, tapi sebenernya sih memang akunya yang kurang berusaha ;p

    Aku coba belajar dari teman yang sukses itu, eve.

  9. evelyn pratiwi yusuf says:

    @Ria:
    Keluar darimana? Dari sebuah gedung yang terletak di sebelah gedung S 101?😉

    @Gubrak:
    <—- huhmmm… itu seringkali terjadi… coba kamu lakukan pendekatan personal dgn para senior atau atasan kamu…
    — Ntar kalau aku begitu, dikira kau situkang penjilat dan tukang bohong duong. Kalau sudah begitu, repot deh!

    @Adhi:
    Sama ama kamu, aku rasa meski begitu tetep aja just rooling aja🙂 * nikmatin hidup sambil denger musik regee*

    @ Prett:
    Wah positif thinking sekaleeee….🙂

  10. evelyn pratiwi yusuf says:

    Kalau lagi BT and stress, aku siap nggak punya temen.
    BTW Mike, SOE HOK GIE itu berkata demikian itu berkaitan menyerah pada kemunafikan politik. Coba kamu liat lagi filmnya.😉.
    Dia memilih tidak ikut sistem saat itu, karena udah terlalu kotor. Jadi dia lebih baik memilih diasingkan daripada termakan oleh sistem itu sendiri. * hasil diskusi ama mbak Ria Naga *

  11. mikearmand says:

    iyah aku juga tahu kalo konteksnya politik tapi kalau diaplikasikan sama aja kan toh ketika dia nggak mau menyerah pada kemunafikan politik (atau apapun itu) dia nggak punya temen kan …

  12. OrangeMood says:

    Evelyn… if you feel something wrong like that, you can say it if you know you do the right one, but still give them a respect.

    Misalnya kamu bisa bertanya why? bertanyalah dengan baik, ke orang yang tepat, misalnya dalam karir, kamu berusaha keras, tetapi rekan kerja kamu yang kelihatan bermalas2an malah mendapatkan penghargaan, kamu bisa mencoba untuk mendiskusikannya, tentunya tidak dengan sembarang/semua orang karena mereka biasanya akan berpikiran negatif terhadap maksud kamu, berbicaralah dengan si pembuat keputusan, misalnya your bos, bicara dengan baik, jelaskan maksud kamu, tanyakan kenapa, dengarkan pendapat dia, diskusikan jika perlu, mintalah saran supaya lebih baik, dsb.

    Meski pada saat itu, biasanya tidak akan mengubah apapun, dalam arti teman kamu sudah mendapatkan rewards dan tentu saja keputusan tidak bisa di ubah, at least your bos know you more better, bos kamu bisa berpikir kamu orang yang harus diperhitungkan jika memang benar adanya, kamu orang yang besar karena menerima & menghargai keputusan, kamu orang yang terbuka dan fair, dsb.

    So hope the next, kamu bisa mendapatkan apa yang sepantasnya kamu dapatkan.

    Kalau lingkungan kamu memang tidak mendukung, dalam arti mereka juga tidak open mind, so don’t bother too much, just do a good things for your own sake.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s