Efektif, Efisien atau TIDAK?

spongebob_credit_card_by_nscc_mhel.jpg

 

Semakin lama, dunia semakin membawa perubahan yang signifikan untuk kehidupan. Keadaan terkadang memaksa mereka-mereka yang bernafas dimuka bumi ini untuk selalu membuat yang baru serta berguna untuk orang banyak, efektif serta efisien.

Apa yang mereka buat atau lakukan untuk kemajuan kehidupan tidaklah sulit seperti layaknya hidup di jaman Megalitikum. Hanya dengan bantuan beberapa alat baik yang sederhana, biasa dan sangat rumit, sesuatu bisa tercipta dan kadang mendapat junjungan tinggi dari makhluk sosial macam kita ini.

Ya disitulah apa yang dikatakan teknologi muncul. Hasil imaji terindah dari percampuran kerjasama otak ( pikiran ) dan seni serta dipadukan dengan realita nyata.

Tapi apakah benar teknologi itu selalu membawa kemajuan?

Atau justru bahkan membawa kemunduran yang berarti?

Baik saya coba jabarkan dari perspektif saya saat melihat fenomena yang tidak dapat dikatakan baru ini.

Beberapa hari yang lalu saya membawa koran Jawa Pos dimana di kolom utama tampak foto banyak mobil mengantri di pom bensin yang terletak dibilangan Ngagel, Surabaya hanya untuk mendapatkan bonus 10 liter bensin jika mereka beli 100 ribu dengan menggunakan kartu kredit Mandiri.

Dalam hati mengatakan, pintar sekali PR atau Marketing dari Bank Mandiri mengadakan event yang pasti 100% mendatangkan profit baik secara langsung maupun tidak langsung untuk membuat image yang baik untuk perusahaan.

Saya kira promo itu hanya berlaku satu hari saja. Tapi saya salah! Meski promo itu hanya untuk satu hari saja, tapi sejauh mata memandang ternyata ada beberapa POM Bensin milik Pertamina yang memasang dipapan pungumuman yang mengarah kejalan dengan tulisan ATM dan CREDIT CARD.

Tidak hanya di Starbuck atau Studio21 dan pusat-pusat perbelanjaan yang menyediakan jasa “ gesekan “ ini. Hanya tinggal digesek, semua tagihan sudah terbayar meski harus membayar tagihan yang datang dikemudian hari. Buat sebagian orang, mereka tidak segan-segan untuk “ menggesek “ karena tawaran yang diberikan sangat menggiurkan. Buy 1 get 1 itu dalah modus yang diberikan oleh pihak bank untuk membuat para pelanggan rela melakukan “ gesekan “ tersebut.

Lainnya halnya di POM Bensin! Jika anda membeli premium seharga Rp.100.000,– dan menggunakan jasa Credit Card, maka anda akan dikenakan biaya sebesar 2%. Tapi tidak ada istilahnya Buy 1 Get 1 Free. Rugi atau tidak itu tergantung pada anda. Kalau saya merasa sangat rugi karena uang 2% itu meski sedikit sangat berarti.

Kalau begini apa bisa dibilang teknologi itu membawa kemajuan?

Jawabannya memang iya, sangat mempermudah manusia dalam menjalankan aktifitasnya.

Tidak perlu repot ke ATM terdekat jika kehabisan uang dan membutuhkannya dalam keadaan yang beberapa orang mengatakan “ terdesak “ sedangkan yang lainnya mengatakan “ terdesak “ dalam arti tidak sebenarnya.

Bagi pengusaha hal itu menjadi alat yang sangat berarti untuk memikat pembeli dengan mudahnya meski perbulan harus membayar Rp.150.000,- untuk biaya pemasangan alat gesek tersebut. Itulah mengapa terkadang konsumen dikenakan biaya tertentu ketika mereka melakukan transaksi.

Atau justru membawa kemunduran yang berarti?

Jawabannya iya.
Besar pasak dari pada tiang pun sekarang sedang menghiasi kehidupan beberapa orang meski dia berakting sangat ahli ketika menggesekkan kartu kesayangannya itu.

Beberapa orang terjangkit penyakit konsumtif akut yang mengalahkan kehebatan penyakit kanker. Tergiur dengan embel-embel Buy 1 Get 1 Free meski sebenarnya tidak memerlukan hal itu. Tergiur melihat iklan dan promo-promo yang dilakukan suatu toko atau perusahaan dan melakukan kebodohan itu. Padahal kenyataannya begitu menerima tagihan, kesadaran muncul dengan gelengan kepala yang bisa mengalahkan gelengan orang disco dan keterlambatan membayarpun terjadi.

Jadi tidak heran kalau nantinya ( sekarang pun sudah ada ) banyak orang yang nampak dari dompet serta penampilan luar layaknya orang ekspatriat, padahal sebenarnya bukan.

Tidak heran banyak pelajar, mulai dari bangku SMP, SMA sampai perkuliahan yang notabene belum mendapatkan penghasilan yang layak dan masih berdiri dibawah ketiak orang tua sudah mempunyai kartu kredit.

Apakah inikah yang diinginkan ketika teknologi itu tercipta?

Ketika keefektifan dan keefisienan diagungkan?

19 thoughts on “Efektif, Efisien atau TIDAK?

  1. anthonysteven says:

    Setiap kemajuan pasti ada imbas kemunduran juga. Contohnya Madam Currie, nobelis wanita pertama, sangat berjasa dalam bidang radioaktif, tapi toh, akhirnya meninggal karena radiasi.

    Kenapa? Karena bahaya radiasi belum terlalu ketahuan saat itu.

    Sekarang yang penting bukanlah menghalangi kemajuan yang ada, tapi mengatasi kemundurannya.

    Teknologi untuk manusia, bukan manusia untuk teknologi…..

  2. kawansyam says:

    Maka sesalilah sejarah ditemukannya uang.
    Ada yang mau barter?
    😀

    Tapi saya setuju dengan “kebingungan” penulis ini. Sedianya teknologi memang dimaksudkan untuk memudahkan kita dalam banyak hal. Tapi adakalanya pula (teknologi) yang kemudian merusak.

    Dalam konteks positif negatif teknologi “gesek-menggesek” ini, saya kira sebagian faktor ada pada kita selaku pengguna teknologi. Sebagian lagi adalah hasil dari upaya para penjual memengaruhi.

    Saya sendiri rasanya masih merasa aman dengan tidak mau “gesek-menggesek” model begini. Masih betah rasanya tak punya kartu kredit. Sebab, masih takut “punya uang” banyak.😀

  3. uwiuw says:

    iye, apalagi kalau ngak mampu bayar [atau lebih dari sebulan] bisa-bisa kena hutang yg besar sekali kayak temen minjam 2 juta 5/6 bln kemudian jadi 8 jt [bayangin bagaimana hitungannya, yahudi banget ngak? — rentenir kayaknya ngak kayak gini]

    mereka itu melakukan bunga berbunga dan bukannya bunga pasif sehingga bila tdk mampu bayar dlm waktu sebulan maka akan terus-menerus bertambah kayak penyakit

    begitulah yg sy dengar :mad dari abe, temen sy atau jg rian yg bapaknya lari-lari di kejar debt kolektor salah satu credit card.

  4. atmo4th says:

    Teknologi kan memang mempunyai dua sisi. Selama kita bisa memilah mana yang bermanfaat dan merugikan, kita bisa jadi manusia yang lebih baik dengan teknologi.

  5. evelyn pratiwi yusuf says:

    @ Anthony:
    I’m agree with you 100%, technology for human, not human for technology. Seperti yang dikatakan salah satu filsuf * aku lupa namanya * live to eat not eat to live *

    @Kawansyam:
    Welcome to Red Devil🙂

    Mas, saya juga masih aman dengan tidak punya Credit Card.
    Kalau mau disalahin ditemukannya uang, aku nggak bisa nyalahin itu. Soalnya males banget harus barter sesuatu, terlalu rumit dan udah ketinggalan jaman.

    @Uwiuw:
    Welcome to Red Devil😉

    Waduh temen anda itu KETERLALUAN mas!
    Dibuat apa aja sie sampai ngutang 8 juta?
    Tapi sebenernya bank memperlakukan bunga pasif itu juga bagus. Buat kita supaya kita jadi disiplin dan berpikir, biar nggak asal melakukan aksi *gesek* itu. Tapi disatu sisi itu merugikan kita karena dari keteledoran kita itu, bank dapat untung yang amat sangat banyak!
    Jadi saran nie, mending pikir2 deh buat melakukan transaksi.😉

    @atmo4th:
    Bagaimana kalau ternyata yang kita pilih itu ternyata tampak luar amat sangat menguntungkan tapi dari dalam nggak?😉

  6. pelbis says:

    Memang benar teknologi dapat memberikan kemudahan kepada kita. Namun dibalik kemudahan itu, terdapat juga sisi negatifnya.

    Tinggal kita sebagaima manusia yang harus bisa mengendalikan efek negatif tersebut.
    Jangan sampai kita sebagai manusia diperbudak oleh teknologi🙂

  7. secondprince says:

    teknologi membuat tuntutan dan batasan pada manusia
    apalagi kalau teknologi itu berkembang terlalu cepat
    manusia bisa syok sendiri dalam keterasingan
    Teknologi membuat manusia jadi tergeneralisasi

  8. AdhiRock says:

    Bank mendapatkan untung yang sangat besar dari layanan Kartu Kredit krn bunga-nya yg besar (big margin), kontributor utama setelah jasa kredit konvensional such as KPR, KPM juga kredit UKM.
    Paradigma berfikir harus dirubah, bad habit harus ditinggalkan bahwa: “kredit bukan untuk konsumsi tapi investasi”.

    Mengenai teknologi:
    Sama hal-nya sebuah koin; ada sisi kanan ada sisi kiri. Ada yin ada yang. Ada bijak ada batil. Tapi kan kita hidup gak selamanya berdiri untuk “salah dan benar” terkadang kita butuh perspekatif2 lain dalam menilai sesuatu. Dan saya highly respect dengan teknologi, krn kalau gak ada kemajuan teknologi kita gak bisa nge-BLOG, saya gak bisa kenal si Penulis: Evelyn Pratiwi🙂
    Thanks

  9. **PrEtTY iN tHE CiTY says:

    ha ha, yang penting bisa nahan diri dalam penggunaan kartu kredit. Menurut aku sih, program2 yang ditawarkan membantu sekali, Eve.

  10. .:: Pitshu ::. says:

    klo g bilang sih bukan teknologi tapi persaingan di dunia kartu kredit (tapi teknologinya memang ke dongkrak sih!), g punya temen yang rajin banget bikin kartu kredit klo itu kartu banyak promo disc-nya klo udah ga ada disc di tutup dech.

    dan beberapa bank emang sekarang mainnya kwantitas dan kerjasama disana sini ^^. Bonus 10 ltr dari Bank Mandiri bikin Jakrta sempet macet dari Graha BIP boilnya udah ngantri sampe POM bensin sampe makan 2 jalur, untung jalur dijalan sana ada 4 hihih, tapi tetep aja bikin macet ^^

  11. anggia says:

    punya kartu kredit emang bikin orang menjadi semakin konsumtif..
    karena dengan alasan, “ah, bisa bayar nanti ini…”
    jadi ga salah tu persepsi besar pasak drpd tiang…

  12. Ria says:

    makanya ndak usah punya kartu kredit seperti saya!
    aku heran deh ngeliat orang bisa begitu bangganya punya kartu kredit segudang, berarti kan utangnya banyak hehe…. j/k

  13. evelyn pratiwi yusuf says:

    @ Pelbis:
    Aku doakan semoga kamu juga tidak menajdi budak teknologi.

    @ Secondprince:
    [manusia bisa syok sendiri dalam keterasingan
    Teknologi membuat manusia jadi tergeneralisasi ]
    Maksudnya tergeneralisasi apa ya? Bingung nie😉

    @Adhi:
    Bener heran juga kadang2 ngeliat orang yang nggak takut utang banyak gara2 shopping, tapi justru takut hutang banyak gara-gara mau buka usaha. Aneh ya?

    @Pretty:
    Sejauh ini aku nggak ngeliat program yang ditawarkan membantu sekali. Justru malah membuat kita maaaakiiiin konsumtif aja. Emang program yang membantu menurutmu apa?😉

    @Pitshu:
    Hey Pitshu, temenmu itu keterlaluan banget! Budak credit card tuh. Pasti kamu ambil keuntungan darinya yach?🙂
    Untung di Surabaya nggak macet total, soalnya nggak hanya di satu pom aja sie.

    @Anggia:
    Welcome to Red Devil🙂
    Semoga kamu nggak besar pasak daripada tiang di Ausie sono yach.🙂

    @ Ria:
    Setuju, kita sama2 nggak punya kartu kredit lho. Meski nggak punyapun aku juga besar pasak daripada tiang. Hikzzzz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s