Still say No ?

 180px-playboy_logo.jpg

Playboy magazine is the controversial magazine in Indonesia before they published 1st Issue.

I read Playboy Magazine April Edition 2007. I think that Playboy Magazine is the best magazine I’ve ever read.

Why?

Because:

1. I like the content.

Eventhough the magazine is just for male, but female like me can read the magazine too  without feeling confused about male world.

Example : interview with Butet Kertaredjasa about himself and his career in theater.

It didn’t talk about entertainment only, but it also gave some information especially, its  creative article. ( maybe it’s because if we read long article we can feel bored ).

2. I like the concept about their Playmate and cover.

Playboy cover ( April edition 2007 ) very simple, and different. Many magazine took photo from their model and always expose the X part. But in playboy cover 100% pure art eventhough she wore bra and mini skirt. I think that Playboy cover not just expose about women X part but more talk about one package especially in concept and very lux. In Playmate, I didn’t feel insult as a women. Many people especially man ( my friend in campus ) they think Playboy is not porn magazine which can make them horny. The said that Playboy had a “ hard “ article for them.

If we want to buy this magazine in book store or bookstall is very hard to get that!
We have to talk with the sales clark first that we want to buy that magazine. Until now many bookstall or book store sell that magazine like play hide and seek.
( poor you Playboy !)

So why many “people” still think Playboy magazine = porn magazine ?
Why Playboy?

In 1st issue I want to buy that magazine in Surabaya. It’s very hard to searched that magazine when many people claim and Playboy has big problem in Indonesia. So finally I found that magazine because my friend. She buyed Rp.60.000,- ( the real price just Rp 40.000 ). I readed that issue and I thought that why many people said Playboy is a bad magazine? Playboy have a class, middle up class and I thought that is not a big deal to make the biggest problem like that!
Maybe my posting very late to post now, but I just want to let you know that Playboy until now have a class ( article, concept layout, cover, model, and price ) and not a porn magazine and I as a women very enjoy to read that magazine than read women magazine like Cosmogirl Indonesia, Go Girl Indonesia, GADIS, Seventeen and many more.

22 thoughts on “Still say No ?

  1. telmark says:

    i still thinking, the playboy magazine is still pornmagazine. they show the “art of body”. but some people said, there`s no art, that`s only porn. duh lama `ga ingris2-san, kacau neh… 🙂

  2. Cherry says:

    That’s obvious enough why Playboy get a lot of hatred in Indonesia. The majority of the protesters are from low class who of course can’t differentiate between porn and art. But yes Playboy magazine is wonderful, and it’s too bad that it can’t get the good publicity it deserves.

  3. arul says:

    yah gak apa2 ada tulisannya memberikan pengetahuan.. tapi buat apa ada gambar2nya coba???? halah menghalalkan segala cara deh… pizz… a….🙂

  4. mikearmand says:

    Nah lyn balikin playboyku dong …

    I just don’t understand what those people think when they did those demonstrations against playboy and then burned the magz. When I finally bought it, I was surprised because all of the models there actually WEAR CLOTHES and VERY APPROPRIATE CLOTHES.

    Beats me …

  5. evelyn pratiwi yusuf says:

    Wajar kalau Arul bilang buat apa ada foto. Nah itu karena batasan pornografi dengan art amat sangat tipis ( cheery juga bilang gitu ) dan hanya dapat ditentukan dengan subjektifitas masing-masing orang. Aku berkata foto2 yag ada di Playboy adalah foto art bukan porn foto namun Arul berbeda. Mungkin anda juga berbeda.🙂

    Untuk Mike, Ntar Playboymu aku balikin ya, masih banyak artikel keren yang belum aku baca. ( biasa lah kesibukan kampusku banyak! ) hehehehehe🙂

  6. riawibisono says:

    playboy indonesia cool banget kalo menurut aku…
    karena aku suka tipe2 artikelnya, in depth gitu…
    bisa dibuat referensi…
    soal foto2nya, menurutku gak porno. soalnya batasan porno menurutku adalah foto yang norak abis dan bikin aku kepengen muntah2. foto playboy nggak tuh, justru seni abis…. tapi ini kan cuma pandangan subjektifku, kalo menurut yang lain belum tentu sama….

  7. ibud says:

    aku pernah dengar berita (ato debat²an tentang batasan porn). Yang pro bilang “batasan porn sangat relatif, tergantung orang yang lihat” . Aku juga -samar-samar- ingat, dl undang² dibilang kl porn adalah gambar ato apalah yang membuat orang turn-on. Artinya itu sangat relativ karena setiap individu ga bisa terangsang dengan objek yang sama.

    contohnya aku. 4 th yang lalu (masa² STM) -hampir- tiap hari aku lihat bokep dan efeknya setelah sekitar 4 bulan jadi pecandu bokep (hampir tiap hari aku lihat), aku ga bisa terangsang lagi kl hanya sekedar ngelihat gambar ato video. Nah, sendainya waktu itu aku ditangkap karena pengedaran vcd porn, aku akan membela diri mati²an. aku akan bilang “Pak, batasan porn tu kan sangat relatif. Saya ga bilang vcd yang saya punya ini pornografi karena saya sama sekali ga terangsang nglihat semua film ini. saya lihat film ini ga ada bedanya sama lihat Finding Nemo Jadi jangan tangkap saya dong Pak!!!”

    Mau jadi apa Indonesia kl semua oknum porn pas kena tangkap mbela diri kaya aku..ha ha..kalian yang cewek pada telanjang didepan ku juga bukan porno bagiku…Seni man!! SENI!!!!! to hell with seni!!

    btw i’m no longer addicted to porn video..I WAS

  8. arul says:

    seandainya anda dalam foto itu? anda mau gak berpose seperti itu karena itu adalah art?
    atau dikampus anda berpose seperti itu.. apakah anda masih mengatakan itu art???

  9. mikearmand says:

    Nah makanya selamanya ga akan pernah bisa kita bersatu untuk urusan porn and art ini karena kembali lagi ke pandangan kita masing2

    Mbok ya jangan ngotot2 toh ya ….

  10. evelyn pratiwi yusuf says:

    Wah memang nih batasan antara porn ama seni tuh tipissss….. banget…
    Sampai matipun tidak akan bisa disatukan sekian banyak subjetifitas orang2 akan hal itu.
    Tapi menjawab pertanyaan Arul, kalau saya justru tidak mau difoto seperti itu untuk dikampus atau majalah kampus!
    Buat apa aku foto seperti itu layaknya orang yang saltum dalam suatu acara pesta.
    Kalau untuk foto yang memang benar2 terkonsep, jelas ada temanya ( + thinking lho ya ), bukan seperti foto yang ada di tabloid 3 ribuan atau di lampu kuning itu saya MAU. Karena bagi saya itu adalah ART bukan Porn.
    Kalau Arul sendiri?🙂
    Mau?

  11. hendra tompel says:

    kekekekekeke…akhirnya ada banyak orang tau kalo PLAYBOY Indonesia is the best megazine in Indonesia….
    wes…pokoke dari semua aspek nggak ada yang menang dah…
    dari nggak pernah langganan majalah, akhirnya aku terpaksa langganan PB…
    huehehehe…
    Rock PB…
    Peace
    :p

  12. mikearmand says:

    Mungkin gini dah gampangannya, Playboy memang bagus tapi lebih bagus lagi kalo ga pake nama Playboy. Nah terus emang orang mau beli kalo namanya bukan Playboy ??

  13. evelyn pratiwi yusuf says:

    Wah, hendra udah habis berapa banyak buat Playboy?
    Playboy yang di Indo kan mahal tuh daripada majalah yang laen.
    Buat : Mike
    :: Kalau Playboy ganti nama nggak laku lah… Itu sudah brand yang melekat banget buat majalah Playboy. Nggak ada si kelinci ya nggak ada Playboy.
    Benar?

  14. AdhiRock says:

    menurut pandangan pribadi dan subjektif… it is art… seni banget.. beda dengan majalah2 lain, atau tabloid2 murah dipinggir jalan… inget banget tu,, poto-nya andara early.. behhh manteb.. nyeni banget…(padahal gw gak tau tuch seni-nya dmana.. ngikut aja…) apalagi kalo compare dgn majalah playboy-nya Thailand atau US yg fully “U can See” everything… beda banget… dari cover depan sampai cover akhir gak ada unsur mesum (sory nech pake bhs warkop) dan jelas segmentasi majalah playboy Indonesia untuk kalangan yg bisa menilai seni secara proposional.. yg bisa bedain antara mesum sama seni, anatara norak dan elegan.. dan jelas kalangan itu adl kalangan menengah ke atas… yg pastinya tingkat pendidikannya.. ya kalo gak mau dibilang -tinggi-, ya -cukup- lah… at least udah bisa bhs inggris minimal… “what the hell are you looking for?” Tapi sayangnya gak ada control tuch dari pemerintah… buktinya sejenggal keluar dari kampus.. lapak pinggir jalan rame2 jualin playboy… pas beli gak ditanya umur-nya berapa? kencing lo dah lurus belum? kagak… tu baru dikawasan kampus gw… belum dikawasan2 lain…

    Jadi totally gak match antara segemtasi startegy dgn positioning strategy… ibarat kate.. ente jualan Rolex di toko pinggir jalan, jualan Quick Silver (ASLI!!) di pasar Jatinegara, Jualan Mont Blanc di toko alat tulis kantor dan sekolah dijejerin sama Pilot… sama dgn plyaboy.. dari contet was great.. target market-nya: urban society, educated people, elegan-oriented, middle-up income tapi tiba2 tu produk nongol di pasar kaget (deket kos-an gw), tu produk nyantel di kios pinggir jalan… Norak kan jadinya?? mungkin krn mereka baru publish pertama kali ya… they want generate profit as much as they can.. gak peduli distribution channel-nya mana aja yg penting laku banyak… gak peduli tu produk di emperan pinggir jalan… pokoknya JALAN!

    Nah jadi pegimana tuch jadinye? segemtasi-nya bablas.. yg beli bukan cuma customer yg jadi target market-nya Playboy… tapi orang2 yg bukan target market-nya pun bisa beli… orang2 yg gak bisa menilai seni secara proposional, orang2 yg kagak bisa ngebedain mana mesum mana seni, orang2 yg bawaannya horny aja kalo liat begituan.. juga anak2 yg kecingnya belum pada lurus bisa bebas merdeka liat beginian… syukur2 kalo cuma liat.. lah kalo dia horny pengen kalo dia “nyoba”?? temen sekelasnya diembat…

    jadi krn gw gak cuma hidup dgn pandangan subjektif… tapi juga pandangan objektif… krn gw hidup bermasyarakat… mending stop dulu dech… kalo situasi Indo udah kayak Perancis, semua masy Indo udah tajir, income per capitanya udah diatas US$8000, bisa sekolah tinggi, dan bisa menilai “ART” secara proposional bukan “sak penak e udel mu dewe” baru dech majalah2 begituan bisa masuk.

    Mudah2an yg distop bukan cuma Playboy.. tapi majalah2 lain dan tabloid2 yg lain… yg “sejenis” bisa menyusul…

    peace/reggae/dreadLock

  15. evelyn pratiwi yusuf says:

    Ya buat Adhi..
    Kalau bicara mengenai horny apa tidak itu ya tergantung ama pikiran dan mentalitas seserorang ( laki2 terutama ).
    Kalau bicara masalah distribusi saya setuju dengan anda bahwa memang amat sangat riskan dan tidak signifikan bila harus dipasarkan dimana2 dan semua orang pun mulai dari kakek2 sampai anak SD pun bisa beli ( kalau yang punya uang ).
    Namun setelah dilihat dari santernya berita yang ada mengenai Playboy dan kasus yang mewarnai 1st issuess nya maka edisi2 berikutnya saya susah banget nyarinya terutama di Surabaya.
    Dan ampe sekarangpun demikian..
    Saya adalah penggemar majalah dan selama saya pergi, pulang rumah saya selalu membawa majalah fav. Ketika saya membeli baik di kios maupun di toko buku ternama jarang banget yang jual.
    Saya baru dapet ketika temen saya yang minjemin saya.
    Itupun dia beli di kios majalah depan kampus dan itupun harus tanya dulu ada apa nggak. Karena tidak di display seperti yang laennya.
    Sekarang harganyapun astaga Rp 50.000.
    Kadang juga mikir untuk beli, soalnya dengan uang segitu aku bisa beli 3 -4 majalah.
    Nah aku nggak setuju kalau di stop. Kalau mau nyetop ya stop aja yang tabloid2 nggak bener itu..

    Menurut Adhi apakan Playboy akan menjadi masalah kalau namanya bukan Playboy tapi yang lain?

    Nggak kan?

    Menurutmu?

  16. mikearmand says:

    Yah kembali lagi kan kalo Playboy ga pake nama Playboy ya jelas ga masalah tapi emang ada yang mau beli ?? Justru nama Playboy itulah yang menjadi daya tarik. Tanpa disadari ini juga bentuk kapitalisme loh dengan cara franchise ‘Playboy’.

  17. AdhiRock says:

    Itulah yg telah gw urain di atas Eve.. krn positioning sama segemntasi gak match.. akibatnya orang2 yg mental-nya masih mental tempe bisa beli… apalagi kalo yg beli anak2 dibawah umur… damn stupid lah..

    Horny atau gak horny itu kan yg bicara testoteron bozz… kalo ada yg bilang kita horny krn kita ngeres itu bener… tapi gak mutlak, gak 100% significant.. krn faktanya meskipun kita gak mikir ngeres… ketika kita ngeliat begituan.. “tiba2 celana sempit aja… bawaannya” krn itu fitrah boz… itu nunjukin kita normal boz… tapi kalo liat Titi DJ pake pakaian seksi aja udah horny… itu udah diatas normal… itu namanya agresif. Dan kalo liat poto paris hilton telanjang buled.. gak horny… itu namanya impoten.

    Kalo namanya diganti jelas gak ada masalah… toh Popular yg jelas2 lebih dahsyat dari Playboy masih bisa beredar… tapi kan yg jadi masalah adl sterotipe majalah Playboy equal majalah porno

  18. evelyn pratiwi yusuf says:

    Berbicara mengenai Steriotipe about Playboz magz, aku rasa itu memang benar. Playboy magz dikecam habis gara2 steriotipe yang ada di masyarakat sudah terlanjur negative ( apalagi masyarkat yg hidup di negara Muslim atau negara yang liberal sekalipun. Dan ini pulalah yang menyebabkan Playboy magz merupakan francise majalah yang esar di dunia dengan kontroversi yang ada.
    Bicara mengenai kapitalisme yang disebutkan Mike, dari dulu Indonesia memang sudah dijajah dengan kapitalisme bung dengan Playboy yang turut meramaikannya..
    Masalah horny dan nggak horny laki2 terhadap suatu hal, aku mana tau..
    Aku kan nggak pernag ngerasainnya..
    Tapi kalau ngelihat titi DJ pakai baju seksi aja sudah horny, ASTAGA titi DJ udah umur berapa man?!!!

    ( lho kok pembicarannya melenceng yach)🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s