Pemilu Raya, kesadaran atau keharusan?

Minggu lalu kampusku penuh dengan bilik-bilik coblos sebagai tempat para mahasiswa memilih ketua HIMA ( Himpunan Mahasiswa Perjurusan ) dan BPMF mereka. Ketua HIMA ( bagi para mantan mahasiswa ataupun yang sekarang adalah mahasiswa tahu apa itu HIMA ) yang mencalonkan diri dipertaruhkan hidup matinya untuk memulai kinerjanya selama 1 tahun keperiodean di bilik coblos ini begitu pula dengan BPMF.Layaknya dalam pemilu yang dilakukan setiap lima tahun sekali, pemilu raya dilakukan di kampusku setiap setahun sekali. Mulai dari adanya orasi ( penyampaian visi misi mereka selama setahun ) para calon-calon Ketua HIMA dan BPMF ( istilahnya DPR kampus yang mengontrol HIMA ) di setiap Jurusan sampai pada pencoblosan dari mahasiswa yang nantinya akan menentukan apakah para calon tersebut dapat menduduki jabatannya serta menerapkan visi misinya.

Pemilu raya yang sekarang ini suasananya tidak terasa seperti ada pemilu raya layaknya ketika aku smester dua. Waktu itu kampus penuh dengan poster-poster serta flayer – flayer bertuliskan pemilu raya. Banyak poster serta flayer-flayer promosi para calon ketua HIMA beserta visi misi mereka di berbagai jurusan. Pokoknya sangat keraaaasssaaaaa banget atmosfer pemilu rayanya!!!!!

Sekarang keadaan berbeda ( maaf nggak bisa ngasih foto aslinya, soalnya aku sibuk hehehehehe ). Poster dan fleyer terpasang layaknya ada suatu seminar atau suatu kegiatan tertentu. Bukan seperti pemilu raya. Tidak semua gedung tertempel atribut yang menunjukan bahwa bulan ini ada pemilu raya di kampusku. Para peserta yang mendaftarkan diri untuk menjadi ketua HIMA atau BPMF pun rasanya tidak ada semangat untuk membuat promosi besar-besaran diri mereka padahal harusnya itu mereka lakukan agar para mahasiswa umum tahu siapa yang akan mereka pilih berdasarkan visi misi yang sesuai.

Aku tidak dapat membandingkan dengan pemilu nasional. Namun aku merasa bahwa kampusku tidak lagi mementingkan arti dari suatu Lembaga Kemahasiswaan yang didalamnya termasuk HIMA dan BPMF. Para mahasiswa tidak lagi peduli akan hal-hal seperti itu. Ini terbukti dengan adanya promosi yang tidak gempar seperti tahun-tahun sebelumnya. Banyaknya calon-calon tunggal yang sudah pasti tanpa pemilu pun mereka pasti menang. Calon-calon tunggal ini yang sangat saya ragukan. Apakah mereka berkompeten untuk menjadi orang yang dapat mewakili mahasiswa? Apakah mereka maju hanya karena supaya HIMA yang lama atau BPMF yang lama tidak ingin HIMA nya bubar dan berada di bawah kekuasaan HIMA jurusan lain dan orang-orang lama secara perlahan akan membayangi mereka. Belum lagi para mahasiswa yang men ” coblos ”pun tidak banyak dan kadang tidak sedikit temanku yang menanyakan pemilu raya itu apa dan ngapain, meskipun mereka sekarang sudah smester 4!

Kalau begitu apakah penting pemilu raya tetap diadakan dengan adanya realita yang seperti itu di depan mata. Apakah masih penting juga suatu Lembaga Kemahasiswaan itu ada, sedangkan para mahasiswa sudah sangat cuek terhadapnya? Jadi kalau begini menurutku pemilu raya itu suatu formalitas dan keharusan tanpa adanya kesadaran dari masing-masing mahasiwa untuk dengan sendirinya memilih wakil mereka tanpa adanya kepentingan dari pihak manapun yang mendomplengi.

Bagaimana menurut anda?

Apakah dikampus anda pemilu raya dilakukan atau justru tidak?
Bagi ceritanya ya…

11 thoughts on “Pemilu Raya, kesadaran atau keharusan?

  1. AdhiRock says:

    Ngomongin coblosan jadi inget tragedi November 2005 di kampus gw… meskipun basic-nya business college yg “konotasinya” hanya ngomong soal bisnis atau gak jauh2 dari uang… ternyata politik-nya dahsyat.

    Selama pertengahan bulan oktober sampai akhir desember… berangkat ke kampus gak tenang, gak comfort, tatapan mata penuh curiga, semua waspada (menyerang dulu atau diserang), was2 krn ada isu penculikan.

    terbagi 3 kubu, tapi yg paling exist blok barat vs blok timur, yg satu-nya lebih independen… meskipun sama juga alias “tusuk-menusuk” tapi rivalitasnya gak se-ekstrem barat vs timur. Nah kebetulan gw ada di timur (dinamakan blok timur krn tempat ngumpul dan ngerokok di pintu timur dan begitupun juga dgn blok barat )

    Kebetulan gw jadi tim sukses calon dari blok timur. Skenarionya… blok timur ngajuin 2 calon, yg satu yg beneran, yg satu (invisible) buat mecah suara blok barat… krn calon tsb cukup deket dgn blok barat… meskipun bukan akrab! Calon lain dari blok independen… dgn lobi yg kuat, provokasi yg tajam, mengangkat neagtif issue dari blok barat, dan historis kepemimpinan blok barat… blok independen setuju semua dukungan dialihkan ke blok timur. Tapi sang calon tetp maju… krn menghindari kecurigaan dari blok barat kalo ada “konspirasi”. Dari awal sampai H-1 bener2 gak ada kampanye… memang sengaja, meskipun blok barat kampanye terujs. tapi begitu H-1, malemnya….

    asli itu semua tim bergerilya… pure… gak ada intimidasi…. semua mahasiswa kita datangin malem… krn kita tahu blok barat datang sekitar jam 8 malem… baru kita datang jam 9 malem… blok barat yakin bakal menang… sang calon dari blok barat memang cukup tenar… dan kebetulan sahabat deket gw… gw akrab ama dia di kehidupan biasa tapi gw gak bisa akrab ama dia pas di organisasi, we have totally different leadership style, approach and perpsektive terhadap satu masalah… tapi kita udah janji clash di oragnisasi jgn di bawa ke masalah pribadi.

    sayang cara gw terlalu kotor… sangat kotor… apalagi dia sahabat gw… jadi sebelum acara coblosan ada sesi presentasi tentang program kerja berikut tanya jawab… nah semua keadaan udah di set sama tim dari blok timur mana yg harus nanya ini, nanya maslah itu… nanya tetntang itu lalu kita harus bales dgn statement ini, itu… krn kebetulan tim dari blok timur dapet bahan presentasi blok barat… so kita pelajari untuk dicari kelemahan dari system yg akan dibuat blok barat.

    Dan kotornya lagi… seluruh mahasiswa tahu kalo gw gak akan ikut andil dlm pemilu ini… baik dukung blok barat maupun timur…. gw gak mau ikut2an… krn blok timur pernah menwarkan posisi wakil ketua BEM dan saya tolak dgn alasan… gw dah gak mau ikut2an masalah pemilu di kampus.

    Dan pas pemilihan… blok timur menang mutlak… MUTLAK. Salahnya sang calon yg suadh terpilih jadi ketua BEM… pas pidato ucapan terima kasih… keceplosan bilang “terima kasih kepada Adhigama Gurun selaku penasehat tim sukses” mampuz! gw bener2 kayak “alien” tiba2 hening… semua orang mandeng gw….

    dari situlah konlik terus berlangsung… selama 6 bulan… sampai akhirnya gw menyatakan permintaan maaf didepan semua mahasiswa.
    dan sekarang we are living in peace college… tapi jadi seru aja… buat bahan cerita kalo lagi nongkrong…. now we are one, gak ada lagi barat atau timur. Rekonsiliasi.

    sory kepanjangan hanya ingin berbagi cerita
    http://www.adhirock.com

  2. Beni Bevly says:

    Evelyn,
    Membaca artikel ini, mengingatkan aku pada masa kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik , Universitas Indonesia (FISIP-UI) pada tahun 1987-1992. Pada masa itu, kehidupan politik kampus sangat meriah. Sebagai calon ketua Senat (mungkin sejenis HIMA?) dan Badan Perwakilan Mahasiswa atau BPM (mungkin sejenis BPMF?) setiap garak-gerik moral dan intelektualnya menjadi pusat perhatian mahasiswa atau kelompok mahasiswa yang berkepentingan.

    Sebagi contoh, pada waktu itu aku adalah salah satu calon ketua BPM, di samping itu aku juga giat mendukung kampanye temanku untuk menjadi ketua Senat. Pada saat sedang merentangkan spanduk kampanye di hadapan ratusan mahasiswa, ada seorang dari kubu lain yang mengacau dengan cara hendak memasukkan botol kosong Teh Botol ke kerah tengkuk bajuku. Tanpa disadari kakiku bergerak secepat kilat dan nempel di mukanya, syukur aku tidak meneruskan tendangan maut tersebut🙂 (Maklum, aku ini juga Pelatih dan Ketua Tae Kwon Do UI). Apa yang terjadi setelah itu? Popularitasku sebagai calon ketua BPM segera menurun karena dianggap violent atau mengandalkan kekerasan.

    Kejadian di atas hanya sebagai gambaran betapa kondisifnya kehidupan politik kampus di FISIP-UI waktu itu. Mengapa hal ini terjadi dan mengapa kehidupan politik kampus di tempat kuliah Evelyn cuek-cuek aja?

    Satu hal yang aku lihat bahwa posisi ketua Senat dan BPM pada saat itu dinilai berharga karena ketua-ketua sebelumnya sering menjadi berita di koran-koran nasional. Tulisan mereka juga di muat di berbagai media. Mereka juga menjadi tempat bagi para petani dan buruh mengadukan nasib dan dimintai dukungan untuk bicara dengan anggota DPR. Jika demikian situasinya, siapa yang tidak mau jadi ketua Senat dan BPM? Apalagi mereka adalah mahasiswa sosial dan politik.

    Melihat pengalaman ini, maka aku usulkan supaya HIMA dan BPMF di tempat Evelyn kuliah bisa menyusun rencana kerja yang baik, merialisasikannya dan hasilnya membawa efek nasional, sehingga menjadikan HIMA dan BPMF menjadi badan yang bergengsi dan diinginkan. Jika hal ini tercapai maka setiap mahasiswa tidak akan sabar menunggu dan ingin terlibat dalam pemilu raya kampus.

  3. Alderina says:

    Hell, gue BPMF sekarang lho…
    Dan hiks ak sedih banget liat kampus kita jadi kaya gini. Aku sendiri juga ga tau kenapa kok makin lama, makin ga suka mahasiswa kita sama politik.
    Teoriku ya, uang kuliah tambah mahal, beban hidup tambah berat. Ortu minta kita lulus ASAP, supaya bisa balik modal. Trus kampus kita yang mayoritas cina, rada anti politik….
    Merencanakan dan mengevaluasi emang udah dilakukan. Tapi semua akhirnya kebentur di pelaksanaan…
    Hm… Mungkin definisi kita berpolitik perlu disamakan yah. Soalnya ga semua kampus punya karakeristik yang sama. Lagipula, tidak selamanya pemilu yang seru dapat menjadi jawaban buat mahasiswa. Liat aja negara kita.. Kebanyakan ngurus politiknya daripada rakyatnya…

    Fokus kita: Mahasiswa…

    Well, sekelumit pemikiranku aja

  4. mikearmand says:

    Sebagai orang yang tahun lalu menjadi peserta pasif pemilu, i couldn’t agree more with you …

    Satu hal yang membuatku lumayan terkejut adalah ternyata rektor melarang unutk membuat pemilu yang heboh. Entah mungkin mereka tak mau ribut.

  5. evelyn pratiwi yusuf says:

    Untuk Adhi:

    Adhi cerita kamu ekstrim banget ya tentang politik yang terjadi di kampus kamu.
    Gila yachh… nggak nyangka aku se kotor itu! Nggak heran sih itu kan memang jaman2 dulu dimana para mahasiswa masih semangat2nya berteriak akan politik tapi sekarang jangan harap seperti itu. Jaman sudah berubah! Dulu mereka seperti itu sekarang mereka lupa kalau mereka bisa seperti itu ( maklum Indonesia kan memang negara yang isinya orang pelupa akan segala hal )

    Untuk Beni:
    Recana kerja yang baik sudah disusun oleh para HIMA dan BPMF. Program yang menarik dan heboh serta berkualitas banyak yang nongol untuk berebut direalisasikan. Menjadi perwakilan dikampusku tidak membanggakan seperti kampusmu.
    Jangan ngayal deh untuk memperjuangkan nasib para kaum miskin dengan posisi kita dan akan membantu mereka.
    Dengan possisi misal Ketua HIMA/BPMF/BEM masih takut-takut untuk mengubah sistem yang seharusnya diubah. Beraninya lempar batu sembunyi tangan ( sukur deh kalau gitu). Biasanya juga Silent Is Golden!

    Untuk Mike:
    Dukungan rektor kita untuk pemilu raya aku nggak kaget mendengarnya. Rektorat ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi kadang menusuk dengan berjuta alasan termasuk yayasan. Disisi lain akan sangat membantu kalau mereka sangat membutuhkan event.
    Sebel!

    Untuk Alderina:
    Orang tua kita menuntut kita harus cepet lulus dengan IPK terbaik dan nyari kerja langusung dapet kerja. Itulah mengapa banyak yang nggak peduli.
    Kepedulian yang dituntut akan politik di kampus melalui pemilu raya nggak besar2 amat lho.
    Ikut memeriahkan tanpa ada yang nanya apa itu pemilu raya ( simple ) rasanya juga cukup.
    Kalau ikut organisasi juga akan amat sangat membantu apalagi untuk dunia kerja nantinya ( meski tidak selalu )

    Thank’s buat semua yang udah ngasih comment

  6. dnial says:

    Pemira di kampusku?
    Aku tulis di blog, judulnya Pemira di ITS dan Dagelan.
    Baca aja.
    Habis males nulis komen panjang2.
    Hehehehe……

  7. mikearmand says:

    Yah, things are getting crazy these days …

    Bahkan kongres mahasiswa di UKP sendiri jarang sekali (hampir ga pernah) membahas masalah mahasiswa. Trus apa gunanya wakil mahasiswa ??

    Jujur saja melihat animo mahasiswa yang parah terhadap pemilu ini aku jadi kepikiran bahwa ga perlu ada soalnya toh yang dipilih juga tidak memberikan “significant contribution” dan pada akhirnya ti ormatur udah susah2 kerja eehhh LPJ nya ditolak.

    You see … by writing this, it seems that I’m killing KBM but it’s time for KBM to die anyway …

    (tambah hari omonganku tambah anarkhis)

  8. riawibisono says:

    waktu aku ikut ISBS aku kenalan sama mahasiswa Trisakti. cerita pemilu di kampusnya juga membara. mestinya kongres tau ada pemilu yang kayak gitu. pemilu di petra mah gak ada apa2nya.
    memang susah, orang kongres sekarang kurang open minded. maklum banyak yang karbitan, bukan kualitas nomor 1. aku tau benar karena aku anggota kongres sebelum mereka. banyak di antara mereka yang sebenarnya bukan kader favorit, tetapi berhubung yang favorit nggak mau maju jadi mereka yang terpilih. ingat pemilu tahun lalu banyak yang calon tunggal. awalnya aku nggak mau berpikiran jelek sama mereka, aku harap they are good enough and they can learn much through one year. tapi yang terjadi mereka justru congkak bak kacang lupa kulitnya. memang nggak semua dari mereka jahat, tapi kebanyakan….
    aku nggak masalah LPJ formatur ditolak, tapi aku nggak bisa terima alasannya. mereka memang picik. di petra mereka boleh nomor satu, tapi aku yakin kalau mereka terjun di masyarakat kita yang pluralis mereka akan tersisih dari pergaulan.

  9. mikearmand says:

    Eh aku juga calon tunggal, trus aku juga bukan orang yang terkenal, dan yang pasti aku ga punya motivasi “pelayanan” yang “mulia” seperti yang lain n aku juga jadi BPMF karena ga ikut TD.

    So, i guess aku adalah anggota kongres yang paling ga jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s